Tampilkan postingan dengan label intermezzo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label intermezzo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2013

Hobi Lama Kambuh

Sekarang hobi lama ku kembali kambuh. Kalau dulu aku suka nulis opini di koran atau buku pribadi, sekarang beralih ,sih tetap nulis juga. tp skg di media online, tepatnya NU Online.
Entah mendapat motivasi apa, tiba-tiba menajdi bersemangat untuk sering ngirim berita atau artikel ke situs nu.or.id (http://nu.or.id/lang,id-.phpx)
Tulisan yang saya kirim biasanya berkisar tentang kegiatan warga NU dan Banomnya, baik struktural (organisasi) maupun ranah kultural (pengajian, pesantren, tokoh dan sebagainya). Ruang lingkupnya di Solo Raya (Solo, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sragen).
Kalau ada teman-teman yang tertarik mengikuti 'jejak' saya, khususnya yang suka nulis dan juga tinggal di wilayah Solo Raya, bisa hub saya di fb : M Ajie Najmuddin http://www.facebook.com/majie.najmuddin?ref=tn_tnmn

Wallahul muwafiq ila aqwami thariq :) biar banyak konflik tetap menarik
SALAM!!!

Sabtu, 14 April 2012

Totalitas Alex...


Ada banyak Juventini (sebutan untuk fans Juventus) yang bilang: " Juve is Alex, Alex is Juve.. Ya, Alex atau Alessandro Del Piero adalah maskot Juve. Pemain ini sampai sekarang sudah memperkuat Juventus selama hampir 20 tahun. Berbagai torehan rekor dan prestasi yang ia bukukan menjadikannya sebagai salah satu legenda Il Bianconerri. Terakhir pada saat melawan Lazio (12/4), penampilannya yang ke-700 dan golnya ke-288 di laga tersebut merupakan rekor baru, yakni sebagai pemain terbanyak yang bermain dan sekaligus pencetak gol terbanyak untuk juve.

Namun, sederet prestasi tersebut sepertinya tidak membuat nasib karirnya di juve aman. Kontrak Del Piero yang akan berakhir pada akhir musim 2011/2012 ini tak kunjung jua diperpanjang oleh manajemen klub. Sebetulnya banyak pihak sekali yang menyayangkan keputusan tersebut, terutama dari juventini. Para penggemar juventus mesti bersiap untuk kehilangan pemain idolanya tersebut musim depan.

(bersambung) dan tamat :D

Sabtu, 11 Juni 2011

Sambatan (Catatan Kesunyian: 4)

Sambatan. Bagi sebagian besar masyarakat Jawa (khususnya yang masih di lingkup pedesaan) pasti tak asing dengan istilah ini. Sambatan ini merupakan sebuah aktivitas sosial warga dalam bentuk membangun rumah secara bergotong royong.

Jadi, bila ada salah seorang warga yang akan membangun rumah. Maka, tetangga di sekitarnya atau malah (mungkin) satu kampung/RT, juga akan turut membantu dalam proses pembangunan rumah. "Gotong Royong dan Tanpa Paksaan!", itu semboyannya.

***

Kebetulan, kemarin ada seorang tetanggaku yang sedang membangun rumah. Karena bersifat sukarela, maka tetangga yang membantu juga tidak terlalu banyak. Warga yang lain kebanyakan sedang sibuk dengan pekerjaan/rutinitas masing-masing, entah ke sawah, ke kebun dan lain sebagainya.

***

Tradisi sambatan ini di beberapa masyarakat (bahkan di pedesaan) sudah mulai ditinggalkan. Apalagi di daerah perkotaan, yang karakter masyarakatnya cenderung individualistik. Biasanya mereka lebih suka menyewa buruh (harian atau borongan) untuk membangun rumahnya.

Senin, 18 April 2011

Oleh-oleh dari Banjarmasin... (3)

EKSOTISME PASAR TERAPUNG
Kongres hampir usai, hari ini (17/3) akan diadakan acara 'penting', pemilihan ketua PB PMII 2011/13. Namun, sejak semalam sudah kurencanakan untuk mengobati rasa penasaranku, melihat Pasar Terapung.
suasana Pasar Terapung
Kalau kalian ingat, dulu ada tayangan (jeda acara), dimana ditampilkan ibu-ibu dengan sayuran dan buah-buahan segar menawarkan dagangannya di sebuah sampan atau perahu. Sebagian lagi sibuk bertransaksi. Lalu iklan diakhiri dengan seorang pedagang ibu-ibu yang tersenyum sambil mengajungkan jempol dan kemudian iklan diakhri dengan lau RCTI oke.
Itulah salah satu gambaran yang ada di Pasar Terapung.. Lalu-lalang kapal Klotok (karena bunyinya klotok-klotok) dan segala macam aneka transaksi yang terjadi. Ya, mirip keadaan sebuah pasar tradisional, dan memang pasar, cuma terapung.
....
Pagi benar, pukul 5.30 WITA, kami (Aku dan Bus) sudah naik angkot dari depan asrama haji (Banjarbaru), tempat kongres, menuju Gambut lalu ke Banjarmasin. Naas, angkot (disana disebut taxi) yang kami tumpangi hanya sampai ke Landasan Terbang Ulin. Kami harus turun lagi mencari Taxi, tak berselang lama ia datang, masih kosong. Taxi melaju kencang, kami berharap bisa lebih cepat lagi, karena pasar terapung hanya ada sampai pukul 7.30.
Taxi berhenti, 2 penumpang masuk, dari logat bahasa yang kudengar kelihatannya mereka orang Sunda. Mereka turun di Gambut untuk berjualan roti. Kami-lah pembeli pertama roti mereka hari itu, penglaris.
...
Banjarmasin. Masih terlihat sepi, Kunikmati setiap sudut kota. Kami sampai di Terminal Pasar Anyar. Kemudian langsung naik ojek menuju Pasar Terapung. Oh, sudah semakin dekat... kulewati jembatan kayu, di samping kiri terlihat aliran sungai. Sungai apa ini? Sungai Barito-kah? di Kalimantan ini begitu banyak sungai...
...
07.00 WITA
Hamparan air sungai nan luas, berada di hadapanku. Ini kah Sungai Barito, yang memiliki luas hampir 2 Km itu? Ternyata bukan, ini sungai Kuin, anak sungai Barito. Tapi tak apalah, dari kejauhan kulihat lalu-lalang kapal klotok, dan beberapa kapal besar yang tertambat di dekat dermaga. Sayang pasar sudah mulai sepi, maklum sudah agak siang.
Transaksi...
Pelan-pelan aku turun ke bawah, berjalan di atas kayu-kayu gelondongan yang terapung. Mesti hati-hati karena medannya seperti di permainan benteng takeshi, yang setiap saat kayunya bisa timbul tenggelam bergerak mengikui riak sungai. Sampai akhirnya tiba di tepi sungai.... kupandangi sepuasnya kebesaran Tuhan ini, baru anak sungai saja luasnya bukan main, apalagi induk sungainya?!
Oke...
Oh ya, bagi mereka yang berkantong tebal, bisa lebih menikmati pesona di pasar terapung ini dengan naik perahu klotok, yang harga sewanya mencapai Rp. 100.000 per jam. Saya lebih memilih untuk sekedar memfoto pemandangan sungai, hilir mudik kapal, dsb. Bagi saya ini sudah lebih dari cukup.
Pasar terapung ini memang rasanya memang bukan untuk tujuan (surga) bagi mereka yang gemar belanja (lebih banyak sayur atau buah, yang mahal harganya). Menurutku tujuan utama para wisatawan datang ke sini, lebih kepada menikmati eksotisme pasar terapung, yang konon hanya ada di Indonesia dan Bangkok. Sangat disayangkan fungsi 'pasar' menjadi kurang optimal.

Oleh-oleh dari Banjarmasin... (2)

WISATA ROHANI, MARTAPURA
Martapura, Kota Penghasil intan, itu yang kutahu dari buku ATLAS warisan kakak. Itu pula yang membuat turis lokal maupun manca tertarik untuk berkunjung ke daerah yang dikelilingi banyak sungai ini.
Namun, selain intan tadi, kota ini ternyata juga memiliki potensi lainnya, wisata rohani. Bagi para 'peziarah wali', Martapura juga tak luput dari daftar tujuan mereka. Kalau di Jawa, orang banyak berziarah ke makam para wali songo. Maka di Martapura, makam Syekh Arsyad Al-Banjar (Astambul) dan Tuan Guru Zaini (Sekumpul), termasuk dalam salah satu menu utama bagi para peziarah.
Kami (Aku dan Umar), terlebih dahulu berziarah ke makam Syekh Arsyad al-Banjar (1122-1227 H/1710-1812 M), seorang ulama besar dari Martapura (Kalsel). Beliau juga merupakan merupakan mufti dari kerajaan Banjar.
Syaikh Arsyad
Makam beliau terletak +- 8 Km dari Kota Martapura, tepatnya di daerah Kelampaian Tengah, Kec. Astambul. Oleh karena itu beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk Kelampaian.
....
16.30 WITA.. Kami kembali ke Sekumpul, Martapura.
Konon, sewaktu Tuan Guru Zaini atau Guru Ijai masih hidup, Tanah Sekumpul dulunya 'sepi'. Kemudian lambat laun berbondong-bondong orang mendirikan rumah, toko di daerah tsb untuk bisa tinggal di dekat beliau. Sekumpul kemudian menjadi pusat dakwah Islam di Martapura.
Saya juga baru mengenal beliau, pada akhir tahun 2007, ketika mendengar mp.3 qasidah beliau,dan juga rekaman video beliau saat bersama Habib Anis (cucu Habib Ali Al-Habsyi, muallif Simtudhurar). Suara beliau yang sangat lembut nan khudlur berpadu dengan keramahan dan senyum Habib Anis, membuat hati ini bergetar.
Siapakah mereka berdua?? kucari di internet. Ternyata mereka berdua adalah para ulama besar, namun sayang aku tak bisa berjumpa langsung dengan mereka. Baru kutahu kalau Habib Anis itu ternyata ada di Solo, dan seharusnya dari dulu saya tahu beliau!!! (Habib Anis wafat tahun 2006, saya di solo pertama kali tahun 2005, namun saya baru tahu beliau tahun 2007).
Hingga dalam sebuah angan, ingin sekali saya untuk dipertemukan mereka, meskipun dalam mimpi. Habib Anis sudah kuziarahi sebab makamnya terletak di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Solo. Sedangkan Guru Ijai, nun di Pulau Kalimantan, apa aku bisa ke sana?
T.G. Zaini
Sampai akhirnya, aku dapat mendapatkan kesempatan ini... Alhamdulillah. Assalamu'alaika Yaa Guru Zaini...
.....
Keinginan yang semoga (kelak) terwujud... Assalamu'alaika Ayyuhannabiyyu Warahmatullahi Wabarakatuh... Siapa mau ikut saya? :)

Rabu, 13 April 2011

Oleh-oleh dari Banjarmasin... (1)

SELAMAT DATANG DI BUMI LAMBUNG MANGKURAT
turun di bandara Syamsudin Noor
8 Maret 2011. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di tanah Borneo, tepatnya di Banjarbaru (Kalsel). Tanpa mengesampingkan tujuan awalku ke sini (ikut kongres PMII), traveling menjadi menu wajib. Sejak awal memang sudah kusiapkan dengan menyusun list beberapa tempat yang akan aku kunjungi.
Kota Martapura masuk dalam daftar awal, karena selain dekat dengan tempat kongres daerah tersebut juga 'kaya' akan tempat wisata. Menyusul Banjarmasin, Pasar Terapung, dan apa lagi ya??? dah lanjut dulu...
...
Di hari ketiga, (menjelang shalat jum'at) dengan modal motor yang kami (aku dan umar) pinjam dari salah seorang anggota Banser, kami memulai perjalanan...
Tempat yang pertama kali kudatangi, tak lain yakni Kota Martapura. Sebuah potret kota santri nan kaya akan hasil alamnya. Disana-sini dijumpai tulisan Arab, di gapura selamat datang, di papan depan kantor-kantor, bahkan di masjid juga tak luput.. hehe. Ada nuansa kental 'islami' di kota ini, membuatku mafhum dengan julukan Serambi Mekkah.
Selesai jum'atan di Masjid Karomah, masjid terbesar di Martapura, kami mampir ke pasar yang terletak tak jauh dari masjid. Umar memborong batu (akik) yang mudah dan murah didapat. "Lumayan, daripada tidak bisa membeli intan, masih bisa dapat batu kecubung". ujarnya. Aku hanya melongo mendengar penjelasan dari penjual batu, sambil pura-pura menerawang warna batu.
baju sasirangan

Sambil lanjut kembali ke masjid untuk mengambil motor, kami mendapati toko pakaian 'sasirangan', baju khas dari Banjar. Modelnya hampir mirip dengan batik, namun warna kuning-hijau-biru yang mendominasinya membuat sasirangan lebih nge-jreng lebih mirip pakaian dari Hawaai. Harga satu bajun rata-rata di atas Rp. 100.000, sedangkan untuk kain mulai Rp. 80.000 ke atas, tergantung motif dan kainnya. Dengan saku pas-pasan, kami hanya bisa berlalu meninggalkan penjual yang kelihatannya juga tak terlalu antusias menawarkan dagangannya.
Tujuan perjalanan kami selanjutnya adalah ke Astambul... (Bersambung)

Minggu, 10 April 2011

Silsilah Keluarga... (Catatan Kesunyian: 3)

Barusan temanku ribut, ia diminta unutuk bikin proposal keluarganya yang seabrek (Se-Indonesia Raya) katanya... haha Tapi berbicara tentang keluarga, apalagi keluarga besar, memang penting untuk sering-sering berkumpul. Bukan hanya untuk sekedar arisan keluarga, tapi lebih untuk selalu mengingatkan bahwa aku-kamu-kita-dia-mereka ini, ternyata satu keluarga. Ya minimal, kalau diurutkan ke atas terus sampai kepada 'Mbah' Nabi Adam.
Disamping pertemuan tadi, penting juga untuk mencatat silsilah atau urutan keluarga keluarga. Semisal saya sendiri (baru hapal sampai kakek ke-3); M. Ajie Najmuddin bin Imam Shodiq bin Solihin bin Mas'ud bin Ali bin ???, Dari sini saya berpikir, kalau saya saja cuma bisa hapal sampai segitu, bagaimana nanti dengan anak dan cucu saya? :)
Bisa jadi, kalau tidak pernah dibudayakan menulis silsilah keluarga ini, nantinya mereka cuma hapal sampai kakek mereka (ayah saya). atau bahkan cucu saya, lupa dengan nama saya. waduhhh... bukan apa-apa, saya juga ingin nama saya disebut dalam doa-doa mereka.
Dan konon, bagi siapa yang menyebut (bertawasul) kepada 7 nama kakeknya, dalam setiap doanya, insyallah akan dikabulkan doa tersebut oleh Allah. Akan lebih baik lagi, kalau bisa menyebut sampai Nabi Adam, hehe..
...
Bagaimana dengan anda? apakah sudah memiliki catatan silsilah keluarga anda?
Kaplingan, 10//4/11

Invasi.. (Catatan Kesunyian: 2)

Perjalanan bersama anak-anak pagi ini terasa membosankan. Sampai akhirnya sampailah kami pada sebuah rumah, satu-satunya bangunan di pinggiran bukit-bukit berkapur.
Bangunan itu dikelilingi pagar setinggi dada orang dewasa. 5 kawanan anak itu, hanya bisa mengintip dari sela-sela pintu kayu. Di dalamnya, ada dua mainan 'mewah' bagi mereka, mereka ingin segera masuk, tapi apa daya tubuh mereka hanya setinggi pagar tembok itu. Hampir semua pasrah, hanya sebagian ada yang merengek tetap ingin masuk.
Tak tega dengan rengekan mereka, aku terpaksa turun tangan. Kuangkat satu anak menaiki tembok. Satu anak berinisiatif untuk naik sendiri dengan berpijak pada sebuah batu di sebelah kiri pintu. Susah payah ia berusaha, sampai akhirnya berhasil, ia berteriak kegirangan, bukan karena berhasil naik, tapi karena mainan 'langka' itu sekarang tepat di hadapannya.
....
Minggu pagi, sekawanan anak 'menginvasi' sebuah rumah, satu-satunya bangunan yang memiliki alat permainan 'langka' di daerah ini. Mereka mulai menyerbu 'bola dunia', sebagian tengah asyik bermain 'prosotan'. Kami-lah pemilik dan penguasa bangunan yang penuh mainan ini... Namun, hanya di Minggu pagi.
Watubonang, 10/4/11

Sabtu, 09 April 2011

Kelahiran.. (Catatan Kesunyian: 1)

Hari menjelang senja, waktunya untuk bersiap menyambut petang. Fase yang terus berulang dalam kehidupan kita pada umumnya. Menyalakan lampu, melawan kegelapan. Terhanyut kembali dalam kesunyian malam.
Namun, keheningan itu sedikit terusik, teriakan 'tetanggaku' di belakang rumah, memecah kedamaian. Makin lama, 'teriakannya' makin keras, makin keras... sampai akhirnya terdengar lirih, namun seketika itu juga muncul 'erangan' kecil, kedua suara itu kemudian bersahutan, mengiringi pergantian waktu.
...
Rupanya ada yang baru melahirkan, tak jelas laki-laki atau perempuan, karena di ruang itu tidak terdapat penerangan. Bayi itu terlahir yatim, karena ayahnya sudah mati beberapa bulan yang lalu. Matinya pun mengenaskan, digorok lehernya... sadis bukan.
Si Ibu tak pernah berpikir bagaimana nanti ia memelihara anaknya, bagaimana memberi makan anaknya, yang terpenting sekarang adalah bagaimana anaknya bisa lahir dengan selamat... sungguh mengharukan.
...
Perlahan, bayi itu mulai belajar berdiri?? jatuh lagi... berdiri menjejakkan kedua kakinya... jatuh lagi... begitu seterusnya, sampai akhirnya ia berhasil menjejakkan keempat kakinya, sembari merengek: "Embeeekkkkkk....".
Kalimangir, 9/4/11

Sabtu, 26 Maret 2011

Peringatan Haul Habib Hasan bin Husein Alaidrus

(Solo),- Syai’lillah ya Aidrusi, Syai’lillah muhyinnufusi, Syai’lillah syamsusyumusi, al-madad ya aidrusi... Lantunan bait-bait penggalan syair dan puji-pujian tersebut mewarnai acara peringatan haul Habib Hasan bin Husein bin Abdullah Alaidrus yang berlangsung semalam (25/3) di kediaman putra beliau, Habib Husain bin Hasan Alaidrus di daerah Pasar Klliwon, Solo. Acara diawali dengan pembacaan kitab maulid simtudurar dan yasinan, dan diisi dengan ceramah oleh Habib Alaidrus dan Habib Muhsin Al-Jufri dari Solo.

Dalam ceramahnya Habib Alaidrus mengatakan, "Peringatan haul ini, agar kita mengenal dan mengetahui mereka. Supaya kita terselamatkan dari fitnah yang merongrong agama islam." Peringatan haul ini memang bertujuan disamping untuk mendoakan mengingat perjuangan para orang-orang salih yang sudah meninggal, juga agar kita terselamatkan dari fitnah zaman akhir.

Dalam acara tersebut dikisahkan tentang manaqib Habib Hasan. Habib Hasan Alaidrus, merupakan salah seorang tokoh pendakwah Islam yang hijrah ke Kota Solo. Beliau lahir di Tarim, Yaman. kepindahan beliau ke Solo tak lepas dari pamannya, Habib Muhammad bin Husein Alaidrus (Habib Neon). Hasan kecil tumbuh berkembang dan mendapatkan pendidikan langsung dari kedua orang tuanya.


Setelah dewasa beliau dikenal memiliki pandangan luas tapi kuat dalam berprinsip. Dalam berbagai ilmu diantaranya ilmu Nahwu dan fiqh,beliau menjadi rujukan dari berbagai madzhab. Oleh beberapa ulama beliau disebut sebagai Waliyyul mastur (wali yang tersembunyi). Semasa hidupnya, beliau menghasilkan beberapa karya diantaranya adalah Kitab bulughul murad wasiyyatil aulad yang berisi syair dan terkandung banyak hikmah dan nasehat di dalamnya. Habib Hasan wafat pada malam Jumat 25 Mei 1974. Jasad beliau dimakamkan di Pemakaman Tipes, Solo.

Acara haul ini bersamaan pula dengan acara haul Habib Ali Al-Habsyi (Pengarang Simtudurar), yang sedianya akan dilaksanakan pada hari ini di Masjid Riyadh, Solo. Haul kedua tokoh tersebut secara rutin diadakan setahun sekali setiap tanggal 20 Rabi'ul Akhir dan menjadi event akbar para peziarah dan pecinta dzurriyah Rasul saw.

Kamis, 03 Februari 2011

Ada 'Naga' dan 'Singa', Berkeliaran di Pasar Gedhe!!!

Foto dan Naskah: M Ajie Najmuddin

Kepala 'Naga', liar mencari 'mangsa'...

Liukan liar tubuh sang 'Naga' di tengah kerumunan massa, sesekali ia menyeringai seperti hendak menyemburkan api dari mulutnya. Di tempat yang sama, sepasang 'singa' tengah berjaga di depan klenteng. Para penonton yang melihat, bukannya takut dengan keduanya, melainkan justru banyak yang sibuk untuk mengabadikan momen 'tarian sang naga'.

Barongsai yang dimainkan anak kecil, bersiap menunggu giliran tampil...

Sudah menjadi tradisi rutin bagi warga Kampung Sudiroprajan, Solo, setiap ada momen perayaan tahun baru imlek, mereka menyelenggarakan atraksi ini. Masing-masing perkumpulan menyuguhkan kehebatan mereka dalam memainkan Liong dan Barongsai. Yang lebih menarik, beberapa hari sebelum pergantian tahun baru imlek ini, diadakan acara Grebek Sudiroprajan, yang dalam konsep acaranya memadukan (akulturasi) unsur budaya Jawa dan Cina.

Hiasan lampion
di sepanjang jalan Ps. Gede- Balaikota

Dalam rangka imlek ini, warga setempat juga menghias di atas jalan-jalan di sekitar kompleks Pasar Gede dengan gantungan lampion yang didominasi warna merah dan kuning. Dan tepat pada pukul 00.00 hari kamis (3/2) penandaan pergantian tahun baru cina, diwarnai dengan kembang api yang semaki n membuat indah pemandangan langit di atas kawasan yang rencananya akan dibangun sebagai titik nol Kota Solo tersebut.

Kembang api memecah kesunyian Langit..

Rabu, 08 Desember 2010

Buka Dulu Topengmu!


Diskusi sore, mulai dari Solo yang penuh dengan topeng sampai rencana 'spy' ala 'dukun'. Banyak yang mengeluh tentang gaya kepemimpinan AD 1 di periode kedua ia memimpin, yang dirasakan sangat berbeda dengan awal ia menjabat sebagai Walikota. Harapan masyarakat yang sempat naik, kini mulai surut. Banyak program yang menjadi ikon pencitraan keberhasilan beliau, seperti penataan PKL, mendorong partisipasi masyarakat dsb hanya menjadi sebatas formalitas dan semu. Ibarat topeng yang banyak terpampang di beberapa sudut kota, wajah yang bopeng tertutup oleh topeng, atau dengan kata lain kebobrokan birokrasi tertutup oleh pencitraan semu.

.......... Tanpa penutup

Minggu, 14 November 2010

Membangun Jiwa, bukan sekedar membangun Keindahan


Angkringan, Wedhangan, HIK atau apalah namanya tidak hanya menjadi sekedar tempat kuliner untuk mengenyangkan perut, lebih dari itu tempat-tempat ini memiliki makna tersendiri ibagi para pembelinya yang mayoritas dari kalangan menengah ke bawah.

Berbagai macam individu yang berkumpul duduk di bangku panjang mengelilingi sebuah gerobak yang berisikan aneka 'jajanan pasar', hadir dengan berbagai kepentingan. Dari yang sekedar duduk untuk nongkrong karena tak ada pekerjaan, atau memang berniat cari menu makan yang 'murah tapi kenyang', ada pula yang datang ke sana hanya untuk mencari teman diskusi/memang menjadi ruang diskusi, mulai seputar topik sehari-hari sampai kritik kebijakan ekonomi-politik, bahkan setting aksi demonstrasi pun sering dilakukan di sini.

Bagi beberapa pembeli, tempat-tempat ini juga menjadi semacam ruang katarsis (penyucian diri yg membawa pembaruan rohani dan pelepasan dari ketegangan). Mereka mengaku menemukan pelepasan 'rasa sumpek', setelah menjalani penatnya aktivitas keseharian, di tempat ini. Ada pula cerita seorang bapak yang sengaja datang ke sebuah angkringan joss yang terkenal kopinya, namun ternyata bukan karena kopi di tempat tersebut rasanya lebih nikmat dari buatan istrinya, melainkan karena memang di situlah ia bisa menemukan kawan-kawan 'diskusi', 'bermain', dsb.

Jadi, sangat disayangkan kalau kemudian pemerintah kota/kab, dengan kebijakannya kemudian menggusur ruang-ruang ini, hanya karena tolak ukur hitungan rupiah, dan menggantinya dengan pembangunan mal, gedung, taman, dsb. Karena dampaknya tidak hanya sekedar rupiah yang hilang, tapi juga ruang katarsis, ruang rakyat yang ada juga akan ikut lenyap. Alangkah baiknya jika antara keduanya bisa disandingkan, kebutuhan pembangunan atau kebijakan memperindah kota akan lebih terasa indah, kalau mereka juga bisa turut merasakan pembangunan dan keindahan tersebut. (dirangkum dari sebuah diskusi singkat di sebuah angkringan).

http://mysukmana.wordpress.com/2008/06/20/sejarah-angkringan-jogja-hiksolo/

Rabu, 27 Oktober 2010

Doa-ku untuk 3 M (Mentawai, Merapi, Maridjan)...


Belum reda duka yang menimpa belahan timur Nusantara, dalam waktu yang beruntun, kabar serupa kembali terdengar dari berbagai penjuru nusantara. Mentawai yang digoyang gempa dan dihantam tsunami, menyusul Merapi yang kembali bergejolak, awan panas atau yang biasa dikenal dengan 'wedhus gembel' yang keluar dari dalam, menerjang pemukiman penduduk dan menelan korban jiwa.

Terserah kita mau menafsirkan apa gerangan yang menjadi penyebab semua ini, adzab-kah? kesalahan manusia-kah yang semena-mena terhadap alam? kesalahan pemerintah yang kurang tanggap bencana? dll. Tapi yang pasti, di setiap bencana ada duka di sana, pun ada hikmah yang tersembunyi di baliknya, tergantung bagaimana perspektif kita terhadapnya.

Mbah Maridjan, sang 'juru kunci' Gunung Merapi, yang berakhir hidupnya di sana jua, membuktikan sendiri hal itu. Bagi mereka yang ditinggalkan, menjadi perasaan duka dan kehilangan. Tapi sebaliknya, bagi beliau mungkin itu adalah hikmah dan kebahagiaan, ketika beliau dicabut ruhnya dalam keadaan sujud (sholat), posisi puncak kehambaan seorang abd kepada sang Ma'bud. wallahu a'lam bi shawab. untuk segenap korban yang meninggal, allahummaghfirlahum, warchamhum, wa'afihi wa'fu 'anhum..

Senin, 12 Juli 2010

Bubur Haritsah

Ada makanan yang khas di masjid riyadh-Solo yang disajikan hanya pada saat acara Khatmil Bukhari, yaitu bubur haritsah atau di daerah Gresik dinamakan 'bubur dempul'. Makanan ini terbuat dari campuran bijih gandum dengan daging kambing, dan bumbu-bumbu dan minyak samin, yang diaduk terus dalam api kecil hingga keseluruhan dagingnya hancur lumat menjadi suatu adonan yang kental berwarna kelabu pekat.

inilah bubur haritsah. tapi gak termasuk tangannya loh ya.. hehe

Bagi yang tidak biasa memakannya, bisa muntah sebelum menyentuhnya. Ada yang bilang seperti muntahan kucing, dan macam-macam persepsi yang negatif. Tetapi bagi yang suka akan makanan berbumbu bernuansa timur tengah, haritsah ini merupakan sesuatu yang sangat [bahkan sangat] istimewa. Istimewa karena langka, dan istimewa karena rasa yang sangat khas. Orang Arab sendiri [Arab Indonesia dan Arjo alias Arab Jowo] sangat rindu akan makanan ini, tetapi sudah sulit memperolehnya.

Tentang Bubur Haritsah ini pernah pula menjadi 'kisah indah' tersendiri antara Rasulullah saw bersama istri-istri beliau. Pada suatu hari Rasulullah saw berada di rumah Aisyah ra. Kebetulan pada waktu itu Aisyah sedang memsak bubur haritsah. Bila bubur itu masak dia menghidangkannya kepada Saudah ra dan Rasulullah saw. Tetapi Saudah lalu berkata :
“Maaf, saya tidak suka makanan ini.”
“Demi Allah, kamu harus makan buburku ini atau kusapukan ke mukamu,”jawab Aisyah.
Lalu segera Aisyah mengambil sedikit bubur dan disapukan ke muka Saudah. Begitu juga yang dilakukan oleh Saudah lalu disapukan ke muka Aisyah. Melihat kejadian itu, Rasulullah saw hanya tersenyum simpul. :)

Khatmil Bukhari di Masjid Riyadh (Solo)

Dari namanya anda mungkin bisa menebak acaranya, ya sepertri halnya khatmil qur'an (penutupan/pengkhataman membaca al-qur'an), acara majlis khatmi bukhari yang setiap bulan Rajab diadakan di Masjid Riyadh (Ps. Kliwon-Solo) ini merupakan acara penutupan atau puncak dari kajian kitab shahih bukhari yang telah dibaca dan dikaji secara rutin di masjid riyadh setiap tahunnya.

Kitab Shahih Bukhari ini merupakan kitab (buku) koleksi hadits yang disusun oleh Imam Bukhari (nama lengkap: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Ja'fai) yang hidup antara 194 hingga 256 hijriah.

Kitab Shahih Bukhari

Acara seperti biasa dimulai dengan pembacaan qasidah dan shalawat, dilanjutkan pembacaan beberapa nukilan daripada hadist-hadist yang termaktub dalam kitab Shahih Bukhari. Setelah itu ditutup dengan doa khatmil dan untaian nasihat/ceramah dari para ulama.

Ada makanan yang khas di masjid riyadh-Solo yang disajikan hanya pada saat acara Khatmil Bukhari,... (Bersambung baca http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest&note_id=409539031516)

Parade Rebana; Solo Bershalawat 2010

Berbagai event pawai kerap digelar di Kota Solo, baik yang bertema budaya maupun kebangsaan. Namun pada Ahad kemarin (11/7/2010), diadakan acara yang berkonsep memadukan unsur budaya dan Religi. "Parade Rebana; Solo Bershalawat 2010", merupakan event tahunan yang baru dua kali diadakan (2009 dan 2010) di Kota Solo. Acara biasanya diagendakan bertepatan dengan hari Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, 27 Rajab.

Ribuan 'pasukan shalawat' berbaris di sepanjang jl. Slamet Riyadi

Pada acara parade rebana tahun ini, peserta yang ikut lebih banyak dibandingkan pada tahun sebelumnya. Tercatat ada ribuan peserta dari berbagai majelis ta'lim yang ikut dalam rombongan pawai berjalan dimulai dari Lapangan Kota Barat dan berakhir sampai pada Balai Kota Solo, acara kemudian ditutup dengan pembacaan mahalul qiyam yang diikuti -+ 5000 peserta tepat di lapangan depan pendhapi balai kota.

http://www.youtube.com/watch?v=BWVLwDKN6e8 (video mahallul qiyam)

baca juga http://harianjoglosemar.com/berita/tebarkan-aura-islami-di-kota-solo-19777.html

Selasa, 06 Juli 2010

Riwayat Singkat Mbah Nurul Anam (Kranji-Pekalongan)

disarikan dari kitab manaqib mbah nurul anam yang ditulis oleh salah satu cicit beliau, mbah Kiai Munawir (Gringsing-Batang). Manaqib ini juga dibacakan setiap tahunnya pada saat acara haul, pada waktu saya ikut dibacakan oleh Kiai Busro Khofi (Karangdowo).

Makam Mbah Nurul Anam di Kompleks Pemakaman Kranji

A. Masa Kecil Mbah Nurul Anam

Beliau lahir di Desa Geritan (Wonopringgo-Pekalongan) pada tahun 1650 M. Dahulu desa tersebut belum bernama Geritan, tapi kemudian diganti namanya untuk mengingat tahun kelahiran Mbah Nurul Anam, yakni dari penghitungan 4 huruf 'abajadun': Ghain (1000), Ra' (200), Ta' (400), dan Nun (50), jadi bila dijumlah menajdi 1650. Kelahiran beliau pada waktu subuh awal bulan Rajab. Yang menjadi salah satu tanda dari kewalian beliau, adalah pada hari pertama beliau dilahirkan, yakni subuh sampai maghrib (seperti layaknya orang yang berpuasa), menolak untuk disusui. Begitu terus berlangsung sampai tiga bulan (Rajab-Sya'ban-Ramadhan).

Ayah beliau adalah M. Nur (P. Bahurekso) yang garis keturunannya ke atas sampai kepada Sunan Ampel dan terus sampai kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan Ibu beliau adalah seorang wanita salehah, Nyai Maryam binti Kiai Tholabuddin yang nasabnya sampai kepada Sunan Giri dan akhirnya sampai kepada Sayyidati Fathimah Az-zahra binti Nabi Muhammad saw. Dalam hal pendidikan agama, beliau dididik langsung oleh ayah beliau.

Mbah Nurul Anam pernah suatu ketika melakukan riyadhah dan dzkrullah di atas lautan selama 25 tahun tanpa menggunakan perahu atau alat lainnya. Kemudian setelah itu beliau pergi haji dan menuntut ilmu ke Mekah.... (bersambung MEMBANGUN PONDOK DI ALAS ASEM KRANJI)

Haul Mbah Nurul Anam (Kranji-Pekalongan)

Dua tahun absen dari acara yang diselenggarakan tiap setahun sekali ini, alhamdulillah tahun ini aku bisa ikut hadir dalam peringatan haul Mbah Nurul Anam, yang diadakan pada hari Sabtu kemarin (26 Juni 2010 kemarin atau 13-14 Rajab 1341 H). Seperti biasa, berbagai rangkaian kegiatan diselenggarakan oleh warga Dukuh Kranji-Kedungwuni-Kab.Peka
longan. Mulai dari anak-anak, remaja, sesepuh, putra, putri, semua tak mau ketinggalan untuk meramaikan kegiatan haul ini.

Dari juma't sore, para remaja putri dari IPPNU, dan Fatayat serta siswa-siswi dari madrasah diniyah berbondong-bondong datang ke kompleks makam, acara yasinan dan tahlilan diadakan sampai menjelang maghrib. Malam harinya, bakda isya (kalau dulu bakda maghrib) diadakan lagi yasinan dan tahlilan untuk umum. selesai itu, acara dilanjutkan dengan khataman al-qur'an 30 juz bil ghaib.

Rombongan peziarah berkumpul di sekitar komplek makam Mbah Nurul Anam

Pada hari kedua, acara haul pun dilangsungkan di kompleks pemakaman Mbah Nurul Anam dan para sesepuh Kranji. Setelah dibacakan manaqib (riwayat hidup) Mbah Nurul Anam, acara diisi ceramah oleh KH. Sholeh Basalamah dari Brebes. Beliau menerangkan diantaranya adalah, dua pelajaran yang bisa dipetik dari peringatan haul Mbah Nurul Anam, yakni urgensi pendidikan anak (merujuk pada metode pendidikan yang diterima Mbah Nurul Anam dari ayah beliau, M. Nur) dan anjuran untuk menjadi 'pelanggan' Allah swt dengan senantiasa berdzikir kepada-Nya.

KH. Sholeh Basalamah, seusai memberikan ceramah...

Rangkaian acara haul ini kemudian ditutup pada malam harinya, dengan acara peringatan isra' mi'raj Nabi Muhammad saw.

Jerman 2010, (akankah) mengulang kesuksesan Prancis 1998? Indonesia?

Kesuksesan tim Jerman melaju sampai ke babak semifinal dengan berbagai catatan kemenangan yang fantastis, tak lepas dari peran para pemain kuncinya seperti Klose, Podolski, Oezil dan lainnnya. Mereka menjadi motor penggerak tim panser dalam melibas lawan-lawan tim besar seperti Inggris dan Argentina.

Yang menarik, disamping keberhasilan mereka sementara di Piala Dunia 2010 kali ini, adalah komposisi dari para pemain Jerman. Nama-nama pemain yang tadi telah disebutkan merupakan beberapa dari nama pemain yang lahir di luar Jerman atau berdarah campuran.

Mereka adalah penyerang Miroslav Klose, Lukas Podolski dan Piotr Trochowski (Polandia) Marko Marin (Yugoslavia), Jeronimo Cacau (Brasil). Pemain belakang Jerome Boateng (Ghana), Mario Gomez (Spanyol), Dennis Aogo (Nigeria). Serdar Tasci dan Mesut Oezil (Turki), Sami Khedira (Tunisia).

Kombinasi multi-etnis ini dikatakan oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel, menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi tim Jerman.

Resep ini sebetulnya pernah dipakai oleh Tim Perancis saat menjuarai Piala Dunia '98 dan Euro 2000. Dengan Komposisi pemain macam Zidane (Aljazair), Desailly (Ghana), Karembeu (Kep. Solomon), Thuram (Guadeloupe), Makelele (Zaire/ Kongo), Vieira (Senegal), Henry (French-Antilles), dan Trezeguet (Argentina).

Dengan resep 'gado-gado' tersebut, Prancis pernah menjadi tim sepakbola yang terbaik dari masa tahun 1998-2001. Namun, keputusan Pelatih Aime Jacquet untuk memasukkan banyak pemain multi-etnis di dalam timnya juga tak berjalan dengan mulus. Waktu itu sempat muncul kritik dari salah satu pimpinan partai kanan Prancis, Jean-Marie Le Pen. "Skuad Prancis terlalu didominasi pemain kulit hitam. Timnas sekarang tidak mewakili Prancis yang sebenarnya," cetusnya.

Namun kritik tersebut tak digubris oleh sang pelatih, dan dari para pemain yang sempat dipertanyakan nasionalismenya, akhirnya justru mampu mempersembahkan Juara Piala Dunia yang pertama kalinya untuk Prancis.

***
Jerman di Piala Dunia 2010, mampukah mengulang resep juara Prancis 1998 dengan semangat multikulturalisme-nya?

Bagaimana dengan Indonesia, yang memiliki potensi yang sama dan bahkan lebih dari yang dimiliki oleh Prancis dan Jerman. Dalam sepakbola, mungkinkah resep tersebut bisa menjadi jalan untuk meraih keberhasilan di saat surutnya prestasi timnas kita?

Yah, minimal kalau ndak bisa juara dunia ya lolos gitu ke putaran final piala dunia.... eh, piala asia dulu ding... hehe