Sabtu, 14 April 2012

Totalitas Alex...


Ada banyak Juventini (sebutan untuk fans Juventus) yang bilang: " Juve is Alex, Alex is Juve.. Ya, Alex atau Alessandro Del Piero adalah maskot Juve. Pemain ini sampai sekarang sudah memperkuat Juventus selama hampir 20 tahun. Berbagai torehan rekor dan prestasi yang ia bukukan menjadikannya sebagai salah satu legenda Il Bianconerri. Terakhir pada saat melawan Lazio (12/4), penampilannya yang ke-700 dan golnya ke-288 di laga tersebut merupakan rekor baru, yakni sebagai pemain terbanyak yang bermain dan sekaligus pencetak gol terbanyak untuk juve.

Namun, sederet prestasi tersebut sepertinya tidak membuat nasib karirnya di juve aman. Kontrak Del Piero yang akan berakhir pada akhir musim 2011/2012 ini tak kunjung jua diperpanjang oleh manajemen klub. Sebetulnya banyak pihak sekali yang menyayangkan keputusan tersebut, terutama dari juventini. Para penggemar juventus mesti bersiap untuk kehilangan pemain idolanya tersebut musim depan.

(bersambung)

Selasa, 03 April 2012

Back to Scholl

Usai diwisuda pada bulan Maret lalu, aku resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE). Sekarang statusku berubah, dari seorang penganggur tertutup (mahasiswa) menjadi seorang penganggur terbuka... hehe
Untungnya status itu tak bertahan lama, suatu hari aku chatingan dengan temanku. Iseng kutanya ada info pekerjaan atau tidak. dijawab: "Ya!!" kemudian diperlihatkan olehnya sebuah info lowongan penerimaan guru baru di SD Ta'mirul Islam Surakarta. Tepatnya guru al-Qur'an??? :D
Segera kulengkapi semua persyaratan, dan akhirnya tibalah saatnya mengikuti tahap tes yang berlangsung kurang lebih 3 minggu... ya, 3 minggu yang meliputi tes potensi akademik, bahasa inggris, mikro teaching, tes al-Qur'an, dan terakhir wawancara.

eee... ndilalah aku lolos. Dan akhirnya sekarang aku kembali ke sekolah. back to scholl... mengajar dan belajar.

Doakan saja meski lulus dengan predikat SE tapi semoga bisa menjadi guru al-qur'an yang baik dan berprestasi... ^_^

Rabu, 22 Juni 2011

'Ngukur Dalan' (Catatan Kesunyian: 6)

Hari 2

Rute: Pare - Jombang - Babat (Lamongan) - Tuban - Kragan (Rembang)

Pukul 06.15, Menembus jalanan Pare-Jombang yang sebagian masih diliputi kabut pagi. Kali ini perjalananku tidak sendiri (ditemani Kasih :) ), kami melewati desa-desa di daerah selatan Jombang, hingga sampai di sebuah tempat, Tebuireng. Kami pun berhenti.

Tebuireng, dari namanya bisa ditebak kalau daerah ini merupakan daerah penghasil tebu. Disamping itu daerah ini merupakan 'penghasil' ulama-ulama besar yang masyhur dan tersebar di seluruh Nusantara. Ya, dari Pondok Pesantren Tebuireng inilah kita mengenal nama Khadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari (atau sebaliknya? dari beliau kita mengenal Tebuireng?), pendiri Nahdhatul Ulama dan Pahlawan Indonesia. Saat berkunjung ke Ponpes Tebuireng, aku berkesempatan untuk berziarah ke makam beliau.

Di dekat makam beliau, juga terdapat makam putra beliau, KH. Wahid Hasyim dan cucu beliau KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah menjabat sebagai Presiden RI. Juga dalam kompleks pemakaman yang tidak luas tersebut, juga terdapat makam keluarga beliau dan beberapa tokoh Ponpes Tebuireng.

di kompleks pemakaman Ponpes Tebuireng

Usai memanjatkan doa, sembari bertawasul kepada beliau para kekasih Allah, perjalanan kulanjutkan menuju ke Tuban, dan sempat singgah sebentar di Alun-alun Jombang .

Pukul 11.00, sampai di Tuban. Istirahat sebentar di tepi Pantai Panyuran, sambil menikmati segarnya minuman legen dan buah Siwalan. Lanjut ke Alun-alun Tuban, istirahat dan solat di Masjid Agung Tuban. Tak jauh dari masjid, ada makam Sunan Bonang. Mumpung ada di sini, maka aku sempatkan untuk berziarah. Kebetulan di sekitar kompleks pemakaman, ada peristiwa menarik; ada perayaan khitan. Anak kecil yang aku taksir usianya masih 7 tahun naik di atas kuda diarak oleh rombongan hadrah dan beberapa anak kecil yang hendak memperebutkan hadiah yang digantung di atas tongkat.

Iringan acara khitan

Terakhir, usai ziarah sebelum ke Rembang aku mampir ke Goa Akbar (besar). Goa dengan lorong-lorong yang seolah panjang tak ada habisnya (sebetulnya rute lorong hanya diputarkan saja) ini terletak justru di tengah kota. Konon, goa ini dulunya merupakan bekas tempat pembuangan sampah (parit) di zaman kerajaan/kolonial dulu ya? saya juga lupa hehe. Setelah ditemukan kemudian dibentuklah seperti sekarang ini, dan dijadikan sebagai obyek wisata andalan Tuban.

Menjelang maghrib, perjalanan kulanjutkan (kembali sendiri) menuju Kragan (Rembang). Menyusuri pantai utara Tuban-Rembang, menikmati pemandangan matahari yang perlahan tenggelam di garis horizon Laut Jawa. Terang berganti gelap, namun alhamdulillah akhirnya bisa sampai di Kragan, rumah bulek-ku

***

Hari 3

Rute: Kragan - Lasem - Rembang - Blora - Purwodadi (Grobogan) - Gemolong - Gondangrejo (Kr. Anyar) - Solo - Sukoharjo

Pukul 09.16, Waktunya pulang. Dari Rembang biasanya aku menempuh rute Rembang-Pati-Grobogan, tapi kali ini aku ingin mencoba jalur lain, Rembang-Blora-Grobogan. Menurutku, hampir tak banyak perbedaan dari kedua rute ini, di sepanjang jalan dipenuhi alas jati, sawah dan jalan yang rusak.

Motor terus melaju kencang, mesin motor mulai panas, sama seperti cuaca di sepanjang daerah yang kulewati. Terpaksa beberapa kali beristirahat, sekedar untuk mendinginkan mesin motor dan mesin tubuh.

Pukul 14.00 baru sampai di Solo, istirahat sebentar, lalu pulang ke Sukoharjo, sampai lagi Kalimangir tepat pukul 15.30. Alhamdulillah...

***

Acara ngukur dalan selesai, entah berapa ratus kilometer perjalanan yang kutempuh. Kini, kembali lagi dengan segala rutinitas, yang sudah 3 hari kutinggalkan. Badan remuk redam, tapi tak ada yang meredam (mijeti), maklum bujangan hehe

Kaplingan, 23/6/2011

Keluar Dari Kesunyian (Catatan Kesunyian: 5)

Ketika kita bosan dalam kesepian, kadang kita bisa menjadi gila karenannya. Bagi saya, agar dapat terhindar dari efek kegilaan tersebut, saya mengobatinya dengan menciptakan 'kegilaan' yang lain, 'kegilaan' yang positif tentunya. Ngukur dalan (dengan naik motor sendiri) sebagian daerah Jawa Tengah-Jawa Timur dengan tujuan wisata rohani dan jasmani ini mungkin bisa anda tiru, kalau mau? hehe :) saya ceritakan sebagian dari 'kegilaan' tersebut:

Neng aloon-aloon Jombang

Hari 1 (19/6/2011)

Rute: Sukoharjo - Kr.Anyar - Sragen - Ngawi - Madiun - Nganjuk - Pare (Kediri)

Pukul 13.30 WIB, Berangkat dari Kalimangir, sebuah dukuh yang terletak di sebelah utara Sukoharjo. Jalanannya yang rusak, membuat laju motor yang kukendarai (sendirian) mesti dipelankan. Perlahan namun pasti, motor bergerak menuju ke arah selatan. Agar lebih cepat aku tidak lewat Solo, tetapi mengambil jalan ke arah Bekonang lalu sampai di Palur (termasuk jalur utama Solo-Surabaya).

Motor melaju kencang, melewati Sragen, lalu istirahat sebentar di Ngawi. Lanjut lagi melewati Caruban (Madiun), dan berhenti lagi untuk solat asar di alun-alun Nganjuk (kayak judul lagu?). Lanjut kemudian sampai di Kertosono (masih masuk Nganjuk), melewati jembatan yang membelah sungai Brantas, dan akhirnya tepat adzan maghrib saya sampai dengan selamat di Pare (Kediri).

Pare atau Mojokuto, tempat observasi Clifford Gertz ketika membuat karya monumentalnya The Religion of Java. Tapi sekarang jarang orang yang tahu tentang hal tersebut, lebih sering orang mengenal Pare dengan Kampung Inggris; Dan saya kemudian singgah sebentar ke tempat tersebut :)

Kampung Inggris, konon katanya orang di kampung ini berbahasa Inggris semua, hingga para pedagang dan tukang becak bahkan memakai Bahasa Inggris. Ah, apa benar??? Saya coba mampir ke salah satu penjual, dan disapa, "Bade ngersakke nopo mas?" Dan buyarlah semua gambaran awalku tentang Kampung Inggris...

(Bersambung ke 'Ngukur Dalan' (Catatan Kesunyian: 6)

Sabtu, 11 Juni 2011

Sambatan (Catatan Kesunyian: 4)

Sambatan. Bagi sebagian besar masyarakat Jawa (khususnya yang masih di lingkup pedesaan) pasti tak asing dengan istilah ini. Sambatan ini merupakan sebuah aktivitas sosial warga dalam bentuk membangun rumah secara bergotong royong.

Jadi, bila ada salah seorang warga yang akan membangun rumah. Maka, tetangga di sekitarnya atau malah (mungkin) satu kampung/RT, juga akan turut membantu dalam proses pembangunan rumah. "Gotong Royong dan Tanpa Paksaan!", itu semboyannya.

***

Kebetulan, kemarin ada seorang tetanggaku yang sedang membangun rumah. Karena bersifat sukarela, maka tetangga yang membantu juga tidak terlalu banyak. Warga yang lain kebanyakan sedang sibuk dengan pekerjaan/rutinitas masing-masing, entah ke sawah, ke kebun dan lain sebagainya.

***

Tradisi sambatan ini di beberapa masyarakat (bahkan di pedesaan) sudah mulai ditinggalkan. Apalagi di daerah perkotaan, yang karakter masyarakatnya cenderung individualistik. Biasanya mereka lebih suka menyewa buruh (harian atau borongan) untuk membangun rumahnya.

Minggu, 22 Mei 2011

Robohnya Perpustakaan Kami!

Harianjoglosemar. Rabu, 18/05/2011 09:00 WIB

Oleh: M Ajie Najmuddin (Pegiat Komunitas Ayo Moco)

Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.” (Milan Kundera)

Ungkapan dari seorang sastrawan asal Ceko di atas memang ada benarnya. Sejarah kebesaran sebuah peradaban bangsa akan lebih diakui keabsahan asal-muasal dan perkembangannya dari literatur, dari bukti-bukti autentik, yang tidak sekadar turun-temurun dituturkan dari lisan ke lisan. Maka tidak salah jika ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa karakter suatu bangsa, dapat dilihat dari perpustakaan nasionalnya.

Perpustakaan nasional bisa menggambarkan keragaman masyarakat, corak sosial kultur, dan bahkan geografis suatu bangsa. Dari ragam koleksi yang dimiliki, dapat dilihat identitas masyarakatnya. Identitas secara kolektif, kebesaran dan kehancuran, kebangunan dan kejatuhan, dapat terekam dengan baik dalam sumber-sumber literasi jika perpustakaan bisa selalu terjaga dari pemusnahan (Diana, 2009).

Sayangnya, meskipun tahu akan pentingnya fungsi keberadaan sebuah perpustakaan, hingga saat ini pemerintah kita belum begitu bersemangat membangun representasi kepribadian bangsa tersebut. Baik perpustakaan nasional maupun perpustakaan di daerah-daerah, kondisinya hampir sama, mengenaskan. Pada tingkatan nasional, belum pernah ada gerakan mengajak warga untuk mengumpulkan data-data sejarah yang dimilikinya. Sementara perpustakaan di tiap daerah, rata-rata nasibnya memprihatinkan dan oleh pemerintah setempat keberadaannya kurang begitu diperhatikan.

Kini, di Kota Solo, bagaimana pula nasib perpustakaannya? Solo, yang dalam sejarahnya memiliki budaya literasi cukup baik, ini bisa kita lihat dari pelbagai karya sastra yang terwujud dalam berbagai bentuk, seperti tulisan (serat), kesejarahan (babad), dan pelbagai karya sastra lainnya. Sebut saja karya-karya seperti Serat Centhini, Serat Kalathida dan lainnya.

Perpustakaan di Solo

Kota Bengawan juga memiliki banyak perpustakaan. Selain perpustakaan daerah yang dikelola pemerintah kota, terdapat pula perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan arsip-arsip lama ataupun manuskrip. seperti halnya di Monumen Pers, Perpustakaan di Mangkunegaran dan Sasono Pustoko di Keraton Kasunanan. Koleksi arsip, manuskrip dan buku yang ada perpustakaan tersebut sering dijadikan rujukan dalam penelitian, baik dari dalam maupun luar negeri.

Penasaran dengan semua cerita itu, beberapa hari lalu saya berkeliling kota untuk melihat perpustakaannya. Namun, kenyataan kadang tak semanis yang diceritakan. Perpustakaan daerah yang terletak di Kepatihan misalnya, menurut penuturan petugas, setiap harinya rata-rata sepi pengunjung. Apabila dilihat dari segi bangunan dan interiornya, memang tidak cukup menarik minat orang untuk berkunjung ke perpustakaan. Satu hal lain yang tak kalah penting, hari liburnya menyesuaikan hari libur pegawai. Alhasil, hari Sabtu dan Minggu, di mana seharusnya banyak orang yang memiliki waktu luang membaca, perpustakaan justru ditutup.

Tak puas dengan fakta itu, saya kemudian beralih ke Mangkunegaran dan Monumen Pers. Perpustakaan di dua tempat tersebut sebetulnya memiliki kelebihan tersendiri. Yang pertama bagus dari sisi pengelolaan, satunya bagus dari segi fisik bangunan. Yang menjadi kelemahan dari keduanya, dari segi pemanfaatannya sebagai ruang baca dan ruang belajar masih minim. Lain lagi di Sasono Pustoko, Keraton Kasunanan, kondisinya lebih buruk dibanding kedua perpustakaan tadi. Bangunannya yang tidak begitu terawat dan koleksinya juga banyak yang hilang.

Sangat disesalkan, kebesaran sejarah literasi dan banyaknya perpustakaan yang ada di Solo, ternyata tidak diimbangi dengan perhatian yang serius dari pemerintah kota dan kesadaran warganya. Beberapa dari perpustakaan tersebut, secara fisik bangunan kondisinya sudah banyak perbaikan. Namun dari sisi fungsinya sebuah perpustakaan (sebagai tempat membaca atau penyimpanan koleksi buku), sebagian besar dari perpustakaan tersebut menghadapi kenyataan yang sama, miskin pengunjung dan miskin koleksi.

Membangun Perpustakaan

Robohnya Perpustakaan Kami! Judul tersebut, meminjam judul sebuah karya sastra karangan AA Navis, Robohnya Surau Kami! Dalam novel tersebut, diceritakan bahwa surau atau musala, memang secara bangunan fisik tidak benar-benar roboh. Tetapi surau sebagai sebuah simbol bangunan keagamaan dan moralitas telah roboh (mengalami degradasi moral). Maka, perpustakaan sebagai sebuah simbol istana buku, cerminan tradisi membaca suatu masyarakat, representasi kepribadian bangsa, apakah juga akan mengalami nasib yang sama ataukah memang sudah benar-benar roboh?

Oleh karena itu, sebelum benar-benar terlambat roboh, kita mesti segera berupaya memperbaiki perpustakaan. Pertama, merevitalisasi perpustakaan. Upaya revitalisasi ini merupakan suatu upaya menghidupkan kembali fungsi perpustakaan sebagai ruang baca dan ruang belajar (penelitian). Dalam hal ini, Pemkot Solo perlu memberikan perhatian lebih, yang diwujudkan semisal dalam kebijakan pengelolaan dan anggaran yang lebih responsif.

Contohlah Pemerintah Kota Malang, yang memberikan perhatian serius dalam mengelola perpustakaan daerah. Tidak hanya dari aspek fisik bangunan yang akan membuat orang merasa nyaman membaca di dalamnya, namun juga aspek pelayanan. Hari Sabtu dan Minggu, perpustakaan tetap dibuka untuk memberikan kesempatan membaca bagi mereka yang baru bisa meluangkan waktunya pada hari libur.

Kedua, Pemerintah Kota Solo mesti lebih massif dalam upaya menggerakkan ajakan gemar membaca kepada warga. Gerakan gemar membaca ini sedikit banyak akan berdampak terhadap minat warga untuk berkunjung ke perpustakaan. Hal ini sebetulnya sudah disiasati oleh Pemkot dengan membuka perpustakaan (mobil) keliling dan juga menjalin kerja sama dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) yang kemudian menghasilkan mobil pintar, namun belum begitu efektif.

Kedua upaya tersebut akan lebih berhasil, bila warga juga turut berpartisipasi. Ketika perpustakaan telah terbangun bagus, sangat disayangkan bila kemudian warga tidak turut aktif dalam menghidupkan dan memanfaatkan keberadaannya. Mari bersama kita membangun (kembali) perpustakaan, sebelum ia benar-benar roboh!