Tampilkan postingan dengan label PMII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PMII. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 April 2011

HARLAH PMII KE-51

PMII Surakarta Gelar Tahlil dan Doa Bersama
Ahad, 17 April 2011 09:10
Solo, NU OnlineDalam rangkaian kegiatan perayaan Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang ke-51, PMII Kota Surakarta mengawalinya dengan acara tahlilan dan doa bersama, yang diadakan di kantor sekretariat Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kota Surakarta. Tempat yang dipilih, yakni kantor PCNU, juga menegaskan bahwa independensi/interdependensi yang telah ditegaskan oleh PMII terhadap NU, tidak membuat renggang hubungan antar keduanya.

Kegiatan tersebut dimeriahkan dengan prosesi pemotongan tumpeng, yang kemudian dibagikan langsung oleh Ketua Umum PMII Surakarta, Agus Riyanto, kepada tiga ketua komisariat yang ada di Kota Surakarta atau Solo ini, yakni Komisariat Kentingan (UNS, USB, STMIK) Komisariat Pabelan (UMS), dan Komisariat Dr. Wahidin (UNU). Prosesi bisa dimaknai sebagai simbol kesolidan warga PMII Solo.

Dalam sambutannya, Agus Riyanto, menegaskan tentang makna perayaan harlah ini agar kita senantiasa tetap mengingat sejarah, "PMII dahulu didirikan oleh para founding father kita, seperti Mahbub Junaidi, Zamroni dan lainnya, adalah untuk mengusung visi kebangsaan, Islam-Indonesia".

Tentang isu santer yang tengah menguat, tentang wacana kembalinya PMII ke NU juga ditanggapinya, "Sejarah juga telah mencatat pendirian PMII dimaksudkan untuk mengakomodasi mahasiswa yang ideologinya aswaja". tegasnya.

"Jadi bila muncul organisasi mahasiswa yang serupa, justru kita takutkan akan memecah kekuatan yang sudah ada. Dan kemudian akan muncul faksi-faksi baru, yang cenderung akan saling menjegal satu sama lain, ini bisa kita lihat di beberapa organ dalam lingkaran (warga) NU" lanjutnya.

Rangkaian kegiatan harlah ini, rencananya akan berlangsung selama satu minggu ke depan, dan puncaknya yakni tanggal 21/22 akan dilangsungkan Muspimcab (Musyawarah Pimpinan Cabang) PC PMII Solo. Sedangkan kegiatan lain yang mengiringinya diantaranya donor darah, diskusi dan seminar. (Ajie)

Jumat, 25 Maret 2011

Serba-Serbi Kongres... (1)

Acara kongres ke-XVII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Banjarbaru (Kalsel) yang telah berakhir pada pekan kemarin, meninggalkan kesan tersendiri di masing-masing peserta, termasuk saya yang beruntung bisa ikut hadir dalam kegiatan akbar PMII tersebut. Letupan kemarahan, Kebanggaan, kebahagiaan, dan kesedihan bercampur, terangkai dalam seluruh prosesi acara.

Dimulai dari acara pembukaan kongres, Rabu (9/3), yang dihadiri oleh kader-kader PMII se-Indonesia, para alumni dan pembina. Turut hadir pula salah satu pendiri PMII (KH. Nuril Huda Suaidi), Gubernur Kalsel dan Menegpora Andi Mallarangeng.

Ada perasaan bangga bercampur haru, tatkala berkumandang lagu Indoensia Raya dan 'lagu kebangsaan' (mars) PMII. Bagaimana tidak, hampir seluruh kader PMII se-nusantara hadir di sini, dengan khidmat nan lantang menyuarakan satu suara:

"...untukmu satu tanah airku, untukmu satu keyakinanku, inilah kami wahai Indonesia,
satu angkatan dan satu jiwa, putera bangsa bebas merdeka, tangan terkepal dan maju ke muka...."

Acara pembukaan secara resmi ditandai dengan ditabuhnya gong oleh Menegpora, mewakili Presiden SBY yang sedianya hadir untuk membuka acara.

Gong...!!! Genderang tanda dimulainya perhelatan akbar PMII telah ditabuh dan 'pertarungan' segera tersaji dalam arena kongres PMII ke-XVII.

PMII dan NU

Oleh: M Ajie Najmuddin

Acara Kongres XVII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah berlalu. Berbagai gagasan dan wacana terkait PMII mulai muncul baik dari hasil diskusi di forum seminar hingga obrolan di warung kopi. Penulis mencermati setidaknya ada tiga hal yang menjadi perbincangan besar di antara para peserta.

Pertama, sistem pengkaderan PMII. Ini terkait bagaimana membangun ruang dan pola pengkaderan di PMII. Kedua, paradigma pergerakan. Ketiga, wacana untuk 'menyatukan' kembali PMII menjadi salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (banom NU).

Adalah wacana ketiga yang paling banyak disinggung, mulai dari acara pembukaan hingga seminar terakhir. Slamet Effendi Yusuf, alumni PMII dan sekarang pengurus PBNU, melontarkan kembali wacana tersebut kepada para kader PMII. Bahwa konteks PMII menyatakan independen terhadap NU pada saat itu, lebih kepada keinginan PMII untuk tidak terjebak ke dalam arah politik praktis. NU pada saat itu memang tengah asyik dalam aras politik nasional sebagai salah satu partai politik yang memiliki dukungan massa yang cukup besar.

Keinginan untuk menjadi independen tersebut semakin menguat, pada dasawarsa 70-an, ketika rezim Orde Baru mulai mengerdilkan fungsi partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan isu back to campus serta organisasi-organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis.

14 Juli 1971 melalui Mubes di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII.

Namun, pada perkembangannya dalam Muktamar Situbondo tahun 1984, NU kemudian juga menegaskan komitmen kembali ke khittah, untuk tidak lagi aktif dalam politik praktis. Dalam konstelasi situasi ini kemudian mencuat pertanyaan: apakah PMII akan kembali bergabung dengan NU? Atau tetap mempertahankan komitmennya untuk tetap independen?

Pertanyaan di atas sedikit terjawab ketika PMII kemudian menegaskan kembali sikap independensi menjadi interdependensi terhadap NU. Yakni, secara struktural kelembagaan PMII tidak terikat kepada NU. Tapi secara ikatan teologis dan kultural, relasi atau hubungan PMII dan NU tidak dapat terpisahkan.

Sinergitas Gerakan

Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral, kesamaan background, pada hakekat keduanya susah untuk direnggangkan. Tak dapat dipungkiri, bila dilihat dari akar historitas, kelahiran PMII tak bisa dipisahkan dari lingkup NU. Meskipun PMII pernah menyatakan independen tehadap NU, tetapi pada hakikatnya landasan ideologi ahlussunnah wal jama'ah (Aswaja) yang diusung PMII masih selaras dengan landasan ideologi NU. Lebih dari itu, hubungan PMII dengan NU merupakan relasi strategis, bukan semata-mata karena ikatan teologis dan kultural, melainkan karena secara sosio-ekonomi dan sosio-politik, antara PMII dengan NU memiliki banyak kesamaan. Selain itu tidak boleh diingkari bahwa pada hakikatnya titik keberangkatan PMII adalah dari akar NU.

Memperkuat hubungan dengan Nahdlatul Ulama semestinya diarahkan dari visi kebangsaan. Bagaimanapun NU adalah ormas keagamaan yang paling tegas dalam menyatakan visi nasionalismenya. Visi ini sama dengan visi di PMII. Selain itu, hubungan diarahkan untuk membentuk pola ikatan yang lebih massif dari proses berbangsa yang tengah dibangun PMII. Sebagaimana PMII, NU memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi perekat bangsa ini, mengingat secara tradisi, Islam di Indonesia pada dasarnya direpresentasikan oleh Nahdlatul Ulama.

Titik persoalannya, basis NU baru terdapat di Jawa, sementara luar Jawa belum mendapat perhatian yang cukup. Apabila basis di luar Jawa dikembangkan secara serius, PMII dan NU akan menjadi kekuatan strategis. Semisal di beberapa daerah di Kalimantan Selatan yang memiliki nuansa kultur 'Islam-Indonesia' yang kental, ini bisa menjadi pijakan awal hubungan tersebut.

Setidaknya ada tiga hal yang bisa digali dari arah perjuangan bersama antara PMII dan NU. Pertama, ideologis. Dalam Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII memilih Aswaja sebagai pendekatan berpikir dalam menghayati dan memahami keyakinan beragama. Dalam hal ini, PMII selaras dengan perjuangan NU. Islam Aswaja yang dikenal memiliki semangat nilai tawasuth (moderat), al-hurriyah (kemerdekaan), tasamuh (toleransi), i'tidal (keadilan), al-hurriyah (persamaan), dan al-sulh (nilai perdamaian) merupakan landasan penting di tengah kenyataan masyarakat Indoensia yang serba majemuk ini. Nilai-nilai ini-lah yang semestinya menjadi perjuangan bersama (universal), tidak hanya PMII dan NU, tetapi juga setiap elemen lain dalam komponen bangsa ini.

Kedua, aspek sosiologis. Hubungan dalam pengertian yang tidak bersifat organisatoris. Apalagi bila dihubungkan dengan kesamaan sosio-ekonomi, sosio-kultur, dan sosio-politik antara PMII dengan NU. Ketiga, aspek teknis. Bahwa di setiap lembaga, masing-masing pasti memiliki program kegiatan. Di NU misalnya, memiliki program kegiatan yang meliputi banyak aspek, semisal di pendidikan, kesehatan, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dan lain sebagainya. Di ruang-ruang itulah, PMII dengan NU bisa saling mengisi. Ketiga hal tersebut, minimal bisa menjadi bukti ketegasan komitmen interdependensi PMII dengan NU.

Pada akhirnya, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak akan lepas dari faham ahlussunnah wal jamaah yang juga merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah wal jamaah merupakan benang merah antara PMII dengan NU. Dengan Aswaja pula, PMII membedakan diri dengan organisasi lain.

Satu hal yang patut kita ingat adalah, bukan persoalan menjadi banom atau tidak menjadi banom, tetapi bagaimana PMII, NU, dan kita semua bisa tetap berkomitmen dalam perjuangan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

*Penulis adalah aktivis PMII Solo
(tulisan ini dimuat di rubrik Kolom NU Online 21 Maret 2011)

Sabtu, 17 April 2010

PMII Kentingan UNS Peringati Harlah Setengah Abad PMII


mSuasana mendung yang menyelimuti daerah belakang kampus UNS, sedikit menimbulkan kekhawatiran sahabat/i PMII Komisariat Kentingan. Pasalnya banyak sahabat yang sudah izin tidak bisa datang di acara peringatan harlah setengah abad PMII karena mudik. Untungnya, hujan tak jua turun. hanya sedikit rintik gerimis, tak menyurutkan langkah sahabat/i untuk berkumpul di sekretariat kom kentingan. alhamdulillah, 8 sahabat dan 6 sahabati bisa menyempatkan waktunya untuk hadir.

Acara peringatan harlah PMII diawali dengan yasinan, tahlilan, dan doa yang dipimpin oleh sahabat Ajie. Selesai itu semua, acara kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan plus diskusi, ato diskusi plus makan? :-) dengan santapan nasi keras (alias nasi yang masaknya kurang air) dan lauk tempe, serta beberapa cemilan dan es sirup yang maknyus. Kali ini ada peningkatan lauk, ada sate ayam juga. :p

Sembari ngobrol ngalor-ngidul 'khas' PMII. Yang pertama dibahas adalah progress report pembentukan 'Mahasiswa Pecinta Al-Qur'an' di Rayon FKIP UNS (17/4/2010). Kemudian juga sedikit menyinggung romansa PMII Kentingan masa lampau. Acara terus berlanjut dan ditutup secara 'formal' pukul 22.00. (diskusi informalnya masih berlanjut).

Harapan dari sahabat/i Komisariat Kentingan, dengan momentum usia emas ini, PMII semestinya bisa lebih optimal dalam memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat, perlu ada 'khittah' untuk pergerakan PMII agar lebih menekankan pada pergerakan yang kembali kepada basis masyarakat dan tanpa terkooptasi pada kepentingan politik.

Jumat, 16 April 2010

Deklarasi Forum Neo-CIpayung


(16/4) Sehari sebelum merayakan usia emasnya, PMII Kota Surakarta bersama 5 OKP-Mahasiswa lainnya mendeklarasikan Forum ‘Neo-Cipayung’, yakni sebuah forum strategis yang dibentuk beberapa OKP-Mahasiswa se-Surakarta (PMII, HMI, KAMMI, GMNI, GMKI, PMKRI). Sebagai bentuk konsolidasi, yang bertujuan untuk memperkuat posisi pergerakan mahasiswa secara umum, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Acara deklarasi bertempat di Ruang Sidang Paripurna, Gedung DPRD Kota Surakarta ini diisi dengan acara diskusi publik. Dengan menggagas tema "Pergerakan Mahahiswa dulu, sekarang dan masa mendatang; Optimalisasi Peran Gerakan Mahasiswa dalam Masyarakat", salah seorang alumni PMII, Ahmad Rifa'i menjadi pembicara pada acara diskusi mewakili dari kalangan akademisi.

Tema diskusi lebih mengerucut kepada pertanyaan atas posisi gerakan mahasiswa yang dirasa semakin jauh dari basis (masyarakat).

Selasa, 30 Maret 2010

Diskusi Bersama Cawali Kota Surakarta 2010

Hari ini PMII Solo mendapat undangan diskusi dengan salah satu Cawali Kota Surakarta 2010 yang bertandang ke kantor PATTIRO Solo, yang dalam (hal ini mungkin) dimaksudkan dalam rangka safari politiknya menjelang Pemilukada Kota Surakarta 2010. Turut hadir FKKB (Becak), FKKP (Posyandu) dan Fosminsa yang semuanya merupakan instansi independen, dan tidak menyatakan mendukung satu calon manapun.

Dalam diskusi tersebut, masing-masing dari instansi yang diundang menyampaikan unek-uneknya kepada Cawali, kemudian 'grenengan' tentang kondisi aktual dan ke depan Kota Surakarta.

Dari FKKB, mengeluhkan eksistensi tukang becak yang sring kena gusur tapi tidak mendapatkan solusi yang jelas, yang menurut mereka berbeda dengan PKL yang meskipun tergusur tapi tetap mendapat ganti tempat.

FKKP, menyuarakan keprihatinan mereka terhadap perhatian Pemkot dalam menangani kasus-kasus Kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan kelahiran dan kesehatan ibu-anak.

Fosminsa (Forum Studi Warga NU Surakarta), mengetengahkan perlunya optimalisasi keberadaan Pesantren di Kota Surakarta, untuk mendinamiskan Kota Solo yang berbudaya sekaligus religius, serta penyikapan pesantren di Solo yang dicitrakan sebagai sarang teroris. usul lain yakni perlu adanya sinergitas pihak keraton dengan acara-acara islami (Jamuro, Sema'an Qur'an dsb)

Dalam bidang Ekonomi, Fosminsa juga mempertanyakan Perwali dari Perda terbaru penataan PKL, Perda No. 3 Tahun 2008, yang belum juga disahkan perwalinya. padahal itu penting, guna kejelasan payung hukum PKL dan jaminan pekerjaan mereka

PMII, dalam konteksnya sebagai OKP, mengingatkan kembali urgensi pengenbangan generasi muda serta perhatian dari Pemkot untuk itu, semisal diwujudkan melalui anggaran untuk pengembangan generasi muda/ormas kepemudaan.

Pattiro Solo, tetap mengedapnkan pada masalah pendidikan anggaran untuk masyarakat serta transparansi anggaran Kota Surakarta.

Acara berakhir pada pukul 13.30.... Semoga bermanfaat dan membawa perubahan yang lebih baik. nama Cawali sengaja saya rahasiakan, biar tidak kelihatan dukung mendukung hehe

Minggu, 28 Maret 2010

Kalau Bisa Bersama, Kenapa Harus Sendiri


Perlahan rintik hujan mulai berhenti, semakin menambah kesunyian malam. kawan dari GMKI selaku tuan rumah, mulai membuka forum. Dia mencoba memaparkan tujuan dikumpulkannya kami semua pada malam ini. tampak hadir perwakilan dari HMI, PMKRI, KAMMI dan Saya beserta sahabat Dalhar dari PMII. Agenda utama dari pertemuan kali ini, adalah kemungkinan untuk membentuk kembali sebuah gerakan bersama antar-OKP-Mahasiwa di Surakarta yang lebih terstuktur (sebelum ini sering ada forum/aliansi antar-OKP, namun lebih bersifat reaksioner/hanya muncul ketika ada momentum, selanjutnya bubar).

Tercatat dulu pernah ada forum serupa di Kota Solo yakni FKPI Solo yang dideklarasikan oleh PMII, GMNI, GMKI, dan PMKRI pada tanggal 13 Juli 1997. Forum ini sempat berjalan beberapa saat, namun akhirnya dalam perjalanan dan pergerakannya forum ini sedikit mandek. Hal ini mungkin dikarenakan, proses regenerasi di tubuh masing-masing organisasi mengalami kemunduran, yang berdampak pada persoalan internal. dampaknya, lahan eksternal pun menjadi terbengkelai, pun dengan forum ini akhirnya menjadi tidak optimal pergerakannya.

Akhirnya di akhir pertemuan malam ini, disepakati beberapa poin penting, yakni, pertama, perlu adanya pembentukan kembali forum bersama antar OKP-Mahasiswa Solo guna mensinergiskan gerakan mahasiswa. Hal ini bukan berarti pola gerakan harus sama, tetapi minimal ada fokus isu tertentu yang bisa digarap bersama. Kedua, mencoba menggagas format gerakan bersama yang lebih terstruktur dan jangka panjang, tidak hanya reaksioner. (terinspirasi Kelompok Cipayung dan FKPI Solo).

Dalam forum ini Kami juga berusaha untuk mengajak segala elemen mahasiswa untuk bisa ikut bergabung di dalamya. GMNI, IMM, GP (dan yang belum saya sebutkan) ayo gabung hehe yg laen juga kalo minat ayo podo gabung... makin banyak, semoga makin kuat (dengan catatan mesti solid, yah meskipun susah, pasti) :-) Kalau Bisa Bersama, Kenapa Harus Sendiri!!!

(bersambung)

Sabtu, 27 Maret 2010

16 Juta... 200 Juta!!!

hari ini (27/3) merupakan puncak dari forum Musrenbangkot (Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan Kota) Kota Surakarta 2009-2011, yang sebelumnya melalui proses dari bawah yakni Musrenbangkel (Kelurahan), Musrenbangcamt (Kecamatan), dan terakhir di tingkatan Kota.

Tahun ini, untuk pertama kalinya PMII Kota Surakarta bisa ikut andil di dalamnya tanpa melalui proses sejak awal di tingkat kelurahan, beberapa bulan yang lalu saya, yang kebetulan mewakiliki dari PMII, langsung mengikuti dari proses pertemuan dengan SKPD (satuan kerja perangkat daerah), guna memberikan usulan untuk kegiatan yang bisa diikutsertakan dengan beberapa SKPD.

Pada waktu itu, dengan ilmu yang masih dangkal mengenai proses pembuatan usulan dsb, dari PMII hanya mengusulkan konsep rumah pintar (terinspirasi rumah pintar di Malang) yang anggarannya tidak jelas karena saya kesulitan untuk mengestimasi biayanya, dan pemberdayaan ketrampilan masyarakat lewat pelatihan kesenian rebana, yang saya anggarkan Rp. 8 juta untuk paket programnya.

alhamdulillah pada proses akhir Musrenbangkot, usulan kami mengenai pelatihan rebana diterima, dan yang lebih menggembirakan, anggaran yang ada justru menjadi bertambah 2x lipat dari 8 juta menjadi 16 juta. sedangkan untuk usulan program pemberdayaan dari Fosminsa (Forum Studi Warga NU Surakarta), konon mendapat anggaran 200 jutaan, wallhu a'lam semua itu nantinya bisa 'cair' semua atau gak. semoga saja bisa keluar, dan dengan uang 'sebanyak' itu mungkin saja malah membuat bingung teman2 untuk merealisasikan program (baca-menghabiskan uang) :-)

yang lebih menggembirakan bagi saya adalah, advokasi dan pendidikan anggaran dari warga NU Solo dan sahabat/i di PMII, sudah menampakkan adanya kemajuan, meskipun untuk pengelolaan dan prosesnya masih banyak mengalami kesulitan. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi...

Rabu, 03 Februari 2010

Menjelang Setengah Abad PMII...

mungkin masih beberapa bulan lagi, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), genap memasuki usia ke-50. Berbagai cerita dan karya yang mewarnai perjalanannya mulai dari awal berdirinya pada 17 April 1960 hingga sekarang ini, menempa PMII menjadi sebuah organisasi yang kuat dan mampu memberikan sumbangsih bagi bangsa.

PMII juga mampu menelurkan kader-kadernya yang turut serta dalam mengukir sejarah bangsa ini. Sebut saja pada awal terbentuknya organisasi ini di awal tahun 1960-an, yang dikomandoi M. Zamroni, Mahbub Junaidi, dan Said. A. Budairy. PMII menjadi pelopor gerakan mahasiswa ’66 yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan berperan besar dalam menumbangkan rezim orde lama. M.Zamroni pada waktu itu menjadi ketua presidium KAMI menjadi sosok yang penting dalam perjuangan KAMI.

Berganti era kepengurusan hingga saat ini, memunculkan kader-kader baru yang lebih kritis dan canggih dalam membaca perubahan zaman. Dari proses yang mereka lakukan di PMII, membentuk mereka menjadi pribadi yang tangguh dan berkompetensi di bidangnya. Kader PMII yang dulu dikenal hanya sebagai kaum santri, kaum yang bersarung, kini menjelma menjadi tokoh-tokoh bangsa dari berbagai kalangan. Ada yang menjadi Ulama (Kiai ataupun akademisi), Umara (Pemimpin atau birokrat), dan lain sebagainya. Masing-masing berlomba untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk lingkungannya.

Masdar F. Masudi, Ahmad Bagja merupakan sebagian nama diantara tokoh ulama yang besar dan berproses di PMII. Dari kalangan birokrat ada Hamzah Haz yang pernah menjadi wakil presiden RI, Suryadharma Ali,dan Muhaimin Iskandar yang sekarang menjadi menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Di ranah pegiat gender ada Khofifah Indarparawansa dan dari bidang lain juga ada sederet nama yang masing-masing memiliki sumbangsih dan karya di bidangnya.

Perjalanan selama 50 tahun, merupakan fase yang semestinya menghasilkan ’kedewasaan dan kematangan’ PMII sebagai organisasi, dari sebuah proses panjang yang telah dilalui kader-kader PMII dalam menghadapi segala peristiwa, serta menjadi modal bagi PMII ke depan dalam menjawab segala permasalahan dan perubahan yang akan terjadi. Sejarah masa lampau merupakan pelajaran berharga untuk mengadapi tantangan sekarang dan hari esok

Ada tiga tantangan besar yang mesti dihadapi PMII kedepannya. Pertama dan selalu ada PMII sebagai organisasi yang berbasis pengkaderan anggota, maka PMII dituntut untuk memperbarui konsep kaderisasinya. Di tengah ’persaingan’ yang sangat ketat dalam memperebutkan kader dengan OKP lain, PMII mesti punya konsep kaderisasi yang lebih canggih dan tertata rapih... (bersambung)

Kamis, 28 Januari 2010

100 hari...




By indah septiyaning on 28 Januari 2010 | 17:19


Solo (Espos)--Gelombang aksi unjuk rasa memperingati 100 Hari Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono di Solo terus memadati Bundaran Gladak, Kamis (28/1).

Aksi ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Warga Solo (Awas) pun diwarnai ketegangan antara aparat keamanan dengan sejumlah pengunjuk rasa.

Berdasar pengamatan Espos, insiden tersebut bermula saat belasan personel pengendali massa (Dalmas) Poltabes Solo menyita ban bekas milik pendemo. Ketika itu, pengunjuk rasa sedang ancang-ancang membakar ban di dekat patung Slamet Riyadi sekitar pukul 11.00 WIB, sebagai puncak aksi.

Belum juga ban dibakar, belasan personel Dalmas bergerak cepat dan langsung membawa ban bekas ke Poslantas. Beberapa pengunjuk rasa yang merasa kecolongan pun langsung mengejar aparat ke pos polisi. Di depan Poslantas terjadi adu argumengasi antara Wakapoltabes Solo AKBP A Marhaendra yang memimpin pengamanan aksi, dengan perwakilan pengunjuk rasa.

Pengunjuk rasa berdalih agenda pembakaran ban sebatas simbolisasi dari aksi protes yang dilakukan. Namun permintaan pendemo ditolak tegas Wakapoltabes yang dikawal beberapa personel polisi dan anjing keamanan yang terus menyalak.

Mendapat perlakuan tegas, pendemo berang lantas mengultimatum supaya polisi tidak melakukan tindakan provokasi. Beruntung aksi demo yang diikuti oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-UNS, BEM Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), BEM Staimus, BEM Universitas Kristen Surakarta (UKS), aktivis Universitas Veteran (Univet), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), KAMMI, PMII serta Masakhi itu, berlangsung relatif aman

Rabu, 09 Desember 2009

Diskusi dan Bedah Buku


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kentingan bekerjasama dengan HIMPROBSI FKIP UNS dan penerbit buku i:boekoe, mengadakan acara diskusi dan bedah buku “Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku”, Rabu (9/12) Pukul 08.00 di Ruang Sidang Gedung A FKIP UNS. Acara ini menghadirkan penulis buku tersebut, Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa, serta pembicara dari FSSR UNS, Drs. Sudharmono, SU. Diskusi yang bertemakan “Memilih Menjadi Penulis” ini, dimaksudkan untuk menstimulus generasi muda agar lebih terpacu dalam budaya tulis-menulis.

tidak hadirnya Pak Dhar yang tengah sakit, tidak menurunkan antusias para peserta diskusi untuk mengikuti acara sampai selesai. overall.. lumayan ^^

Selasa, 14 April 2009

PMII-ku, kamu, mereka, dan kita semua

PMII solo... hufff, 1001 masalah yang tak kunjung selesai.
namun hanya 0,0000035235.... saja semangat yang nampak pada kader2nya.
entah dulu atau sekarang, rasanya sejak pertama kali ku terjun di sana, belum juga ada perubahan yang nampak,

go!.... PMII,
sadarlah kau! sadar umurmu sudah hampir setengah abad!
bergeliatlah! pasti lawanmu akan bergidik!
bergerak! seperti nama depanmu itu!

entah bagaimana caranya...