Rabu, 22 Juni 2011

'Ngukur Dalan' (Catatan Kesunyian: 6)

Hari 2

Rute: Pare - Jombang - Babat (Lamongan) - Tuban - Kragan (Rembang)

Pukul 06.15, Menembus jalanan Pare-Jombang yang sebagian masih diliputi kabut pagi. Kali ini perjalananku tidak sendiri (ditemani Kasih :) ), kami melewati desa-desa di daerah selatan Jombang, hingga sampai di sebuah tempat, Tebuireng. Kami pun berhenti.

Tebuireng, dari namanya bisa ditebak kalau daerah ini merupakan daerah penghasil tebu. Disamping itu daerah ini merupakan 'penghasil' ulama-ulama besar yang masyhur dan tersebar di seluruh Nusantara. Ya, dari Pondok Pesantren Tebuireng inilah kita mengenal nama Khadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari (atau sebaliknya? dari beliau kita mengenal Tebuireng?), pendiri Nahdhatul Ulama dan Pahlawan Indonesia. Saat berkunjung ke Ponpes Tebuireng, aku berkesempatan untuk berziarah ke makam beliau.

Di dekat makam beliau, juga terdapat makam putra beliau, KH. Wahid Hasyim dan cucu beliau KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah menjabat sebagai Presiden RI. Juga dalam kompleks pemakaman yang tidak luas tersebut, juga terdapat makam keluarga beliau dan beberapa tokoh Ponpes Tebuireng.

di kompleks pemakaman Ponpes Tebuireng

Usai memanjatkan doa, sembari bertawasul kepada beliau para kekasih Allah, perjalanan kulanjutkan menuju ke Tuban, dan sempat singgah sebentar di Alun-alun Jombang .

Pukul 11.00, sampai di Tuban. Istirahat sebentar di tepi Pantai Panyuran, sambil menikmati segarnya minuman legen dan buah Siwalan. Lanjut ke Alun-alun Tuban, istirahat dan solat di Masjid Agung Tuban. Tak jauh dari masjid, ada makam Sunan Bonang. Mumpung ada di sini, maka aku sempatkan untuk berziarah. Kebetulan di sekitar kompleks pemakaman, ada peristiwa menarik; ada perayaan khitan. Anak kecil yang aku taksir usianya masih 7 tahun naik di atas kuda diarak oleh rombongan hadrah dan beberapa anak kecil yang hendak memperebutkan hadiah yang digantung di atas tongkat.

Iringan acara khitan

Terakhir, usai ziarah sebelum ke Rembang aku mampir ke Goa Akbar (besar). Goa dengan lorong-lorong yang seolah panjang tak ada habisnya (sebetulnya rute lorong hanya diputarkan saja) ini terletak justru di tengah kota. Konon, goa ini dulunya merupakan bekas tempat pembuangan sampah (parit) di zaman kerajaan/kolonial dulu ya? saya juga lupa hehe. Setelah ditemukan kemudian dibentuklah seperti sekarang ini, dan dijadikan sebagai obyek wisata andalan Tuban.

Menjelang maghrib, perjalanan kulanjutkan (kembali sendiri) menuju Kragan (Rembang). Menyusuri pantai utara Tuban-Rembang, menikmati pemandangan matahari yang perlahan tenggelam di garis horizon Laut Jawa. Terang berganti gelap, namun alhamdulillah akhirnya bisa sampai di Kragan, rumah bulek-ku

***

Hari 3

Rute: Kragan - Lasem - Rembang - Blora - Purwodadi (Grobogan) - Gemolong - Gondangrejo (Kr. Anyar) - Solo - Sukoharjo

Pukul 09.16, Waktunya pulang. Dari Rembang biasanya aku menempuh rute Rembang-Pati-Grobogan, tapi kali ini aku ingin mencoba jalur lain, Rembang-Blora-Grobogan. Menurutku, hampir tak banyak perbedaan dari kedua rute ini, di sepanjang jalan dipenuhi alas jati, sawah dan jalan yang rusak.

Motor terus melaju kencang, mesin motor mulai panas, sama seperti cuaca di sepanjang daerah yang kulewati. Terpaksa beberapa kali beristirahat, sekedar untuk mendinginkan mesin motor dan mesin tubuh.

Pukul 14.00 baru sampai di Solo, istirahat sebentar, lalu pulang ke Sukoharjo, sampai lagi Kalimangir tepat pukul 15.30. Alhamdulillah...

***

Acara ngukur dalan selesai, entah berapa ratus kilometer perjalanan yang kutempuh. Kini, kembali lagi dengan segala rutinitas, yang sudah 3 hari kutinggalkan. Badan remuk redam, tapi tak ada yang meredam (mijeti), maklum bujangan hehe

Kaplingan, 23/6/2011

2 comments:

  1. wah.....pertualangan religi....hikss
    ***iri.com

    BalasHapus
  2. ndak juga... petualangan cinta wkekee

    BalasHapus