Rabu, 25 Juli 2012

Back to school... (2)

Mustahil, untuk kembali ke masa lampau. Tetapi kenangan akan sekolah di sebelah masjid itu masih melekat kuat di dalam ingatan dan hati ini...

Pasti teman-teman juga akan (dan harus) mengiyakan... hehe ya kan?

Dan sekarang, di sekolah (sebelah masjid pula) aku ingin merenda sejarah...

dimanapun kita berada, harus tetap belajar atau mengajar!!! bahkan ketika kita sedang sendirian, alam dan lingkungan sekitar bisa jadi guru kita (tapi nek dewean sing meh diajar sopo yo... hehe)

dan untuk guru-guruku, sekarang aku menapaki jalan hidupmu... mengajarkan satu alif demi alif... kata demi kata. Semoga berkah dan manfaat ilmu yang telah kupelajari dari engkau.

Untuk semua orang yang pernah menjadi guruku... lahumul alfatihah...

Sabtu, 14 April 2012

Totalitas Alex...


Ada banyak Juventini (sebutan untuk fans Juventus) yang bilang: " Juve is Alex, Alex is Juve.. Ya, Alex atau Alessandro Del Piero adalah maskot Juve. Pemain ini sampai sekarang sudah memperkuat Juventus selama hampir 20 tahun. Berbagai torehan rekor dan prestasi yang ia bukukan menjadikannya sebagai salah satu legenda Il Bianconerri. Terakhir pada saat melawan Lazio (12/4), penampilannya yang ke-700 dan golnya ke-288 di laga tersebut merupakan rekor baru, yakni sebagai pemain terbanyak yang bermain dan sekaligus pencetak gol terbanyak untuk juve.

Namun, sederet prestasi tersebut sepertinya tidak membuat nasib karirnya di juve aman. Kontrak Del Piero yang akan berakhir pada akhir musim 2011/2012 ini tak kunjung jua diperpanjang oleh manajemen klub. Sebetulnya banyak pihak sekali yang menyayangkan keputusan tersebut, terutama dari juventini. Para penggemar juventus mesti bersiap untuk kehilangan pemain idolanya tersebut musim depan.

(bersambung) dan tamat :D

Selasa, 03 April 2012

Back to Scholl

Usai diwisuda pada bulan Maret lalu, aku resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE). Sekarang statusku berubah, dari seorang penganggur tertutup (mahasiswa) menjadi seorang penganggur terbuka... hehe
Untungnya status itu tak bertahan lama, suatu hari aku chatingan dengan temanku. Iseng kutanya ada info pekerjaan atau tidak. dijawab: "Ya!!" kemudian diperlihatkan olehnya sebuah info lowongan penerimaan guru baru di SD Ta'mirul Islam Surakarta. Tepatnya guru al-Qur'an??? :D
Segera kulengkapi semua persyaratan, dan akhirnya tibalah saatnya mengikuti tahap tes yang berlangsung kurang lebih 3 minggu... ya, 3 minggu yang meliputi tes potensi akademik, bahasa inggris, mikro teaching, tes al-Qur'an, dan terakhir wawancara.

eee... ndilalah aku lolos. Dan akhirnya sekarang aku kembali ke sekolah. back to scholl... mengajar dan belajar.

Doakan saja meski lulus dengan predikat SE tapi semoga bisa menjadi guru al-qur'an yang baik dan berprestasi... ^_^

Kamis, 23 Juni 2011

Finish! (Catatan Kesunyian: 7/Habis)

Hari 3

Rute: Kragan - Lasem - Rembang - Blora - Purwodadi (Grobogan) - Gemolong - Gondangrejo (Kr. Anyar) - Solo - Sukoharjo

Pukul 09.16, Waktunya pulang. Dari Rembang biasanya aku menempuh rute Rembang-Pati-Grobogan, tapi kali ini aku ingin mencoba jalur lain, Rembang-Blora-Grobogan. Menurutku, hampir tak banyak perbedaan dari kedua rute ini, di sepanjang jalan dipenuhi alas jati, sawah dan jalan yang rusak.

Motor terus melaju kencang, mesin motor mulai panas, sama seperti cuaca di sepanjang daerah yang kulewati. Terpaksa beberapa kali beristirahat, sekedar untuk mendinginkan mesin motor dan mesin tubuh.

Pukul 14.00 baru sampai di Solo, istirahat sebentar, lalu pulang ke Sukoharjo, sampai lagi Kalimangir tepat pukul 15.30. Alhamdulillah...

***
Acara ngukur dalan selesai, entah berapa ratus kilometer perjalanan yang kutempuh. Kini, kembali lagi dengan segala rutinitas, yang sudah 3 hari kutinggalkan. Badan remuk redam, tapi tak ada yang meredam (mijeti), maklum bujangan hehe

Kaplingan, 23/6/2011

Rabu, 22 Juni 2011

'Ngukur Dalan' (Catatan Kesunyian: 6)

Hari 2
Rute: Pare - Jombang - Babat (Lamongan) - Tuban - Kragan (Rembang)

Pukul 06.15, Menembus jalanan Pare-Jombang yang sebagian masih diliputi kabut pagi. Kali ini perjalananku tidak sendiri (ditemani Kasih :) ), kami melewati desa-desa di daerah selatan Jombang, hingga sampai di sebuah tempat, Tebuireng. Kami pun berhenti.

Tebuireng, dari namanya bisa ditebak kalau daerah ini merupakan daerah penghasil tebu. Disamping itu daerah ini merupakan 'penghasil' ulama-ulama besar yang masyhur dan tersebar di seluruh Nusantara.

Ya, dari Pondok Pesantren Tebuireng inilah kita mengenal nama Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari (atau sebaliknya? dari beliau kita mengenal Tebuireng?), pendiri Nahdhatul Ulama dan Pahlawan Indonesia. Saat berkunjung ke Ponpes Tebuireng, aku berkesempatan untuk berziarah ke makam beliau.

Di dekat makam beliau, juga terdapat makam putra beliau, KH. Wahid Hasyim dan cucu beliau KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah menjabat sebagai Presiden RI. Juga dalam kompleks pemakaman yang tidak luas tersebut, juga terdapat makam keluarga beliau dan beberapa tokoh Ponpes Tebuireng.

di kompleks pemakaman Ponpes Tebuireng
Usai memanjatkan doa, sembari bertawasul kepada beliau para kekasih Allah, perjalanan kulanjutkan menuju ke Tuban, dan sempat singgah sebentar di Alun-alun Jombang .

Pukul 11.00, sampai di Tuban. Istirahat sebentar di tepi Pantai Panyuran, sambil menikmati segarnya minuman legen dan buah Siwalan. Lanjut ke Alun-alun Tuban, istirahat dan solat di Masjid Agung Tuban.

Iringan acara khitan
Tak jauh dari masjid, ada makam Sunan Bonang. Mumpung ada di sini, maka aku sempatkan untuk berziarah. Kebetulan di sekitar kompleks pemakaman, ada peristiwa menarik; ada perayaan khitan. Anak kecil yang aku taksir usianya masih 7 tahun naik di atas kuda diarak oleh rombongan hadrah dan beberapa anak kecil yang hendak memperebutkan hadiah yang digantung di atas tongkat.


Terakhir, usai ziarah sebelum ke Rembang aku mampir ke Goa Akbar (besar). Goa dengan lorong-lorong yang seolah panjang tak ada habisnya (sebetulnya rute lorong hanya diputarkan saja) ini terletak justru di tengah kota.

Konon, goa ini dulunya merupakan bekas tempat pembuangan sampah (parit) di zaman kerajaan/kolonial dulu ya? saya juga lupa hehe. Setelah ditemukan kemudian dibentuklah seperti sekarang ini, dan dijadikan sebagai obyek wisata andalan Tuban.

Menjelang maghrib, perjalanan kulanjutkan (kembali sendiri) menuju Kragan (Rembang). Menyusuri pantai utara Tuban-Rembang, menikmati pemandangan matahari yang perlahan tenggelam di garis horizon Laut Jawa.

Terang berganti gelap, namun alhamdulillah akhirnya bisa sampai di Kragan.

***
(Bersambung ke Finish! (Catatan Kesunyian: 7)

Keluar Dari Kesunyian (Catatan Kesunyian: 5)

Ketika kita bosan dalam kesepian, kadang kita bisa menjadi gila karenanya.

Bagi saya, agar dapat terhindar dari efek kegilaan tersebut, saya mengobatinya dengan menciptakan 'kegilaan' yang lain, 'kegilaan' yang positif tentunya.

Ngukur dalan sebagian daerah Jawa Tengah-Jawa Timur dengan tujuan wisata rohani dan jasmani ini mungkin bisa anda tiru, kalau mau? hehe :)

Saya ceritakan sebagian dari 'kegilaan' tersebut:

Neng aloon-aloon Jombang
Hari 1 (19/6/2011)
Rute: Sukoharjo - Kr.Anyar - Sragen - Ngawi - Madiun - Nganjuk - Pare (Kediri)

Pukul 13.30 WIB, Berangkat dari Kalimangir, sebuah dukuh yang terletak di sebelah selatan Sukoharjo. Jalanannya yang rusak, membuat laju motor yang kukendarai (sendirian) mesti dipelankan.

Perlahan namun pasti, motor bergerak menuju ke arah utara. Agar lebih cepat aku tidak lewat Solo, tetapi mengambil jalan ke arah Bekonang lalu sampai di Palur (termasuk jalur utama Solo-Surabaya).

Motor melaju kencang, melewati Sragen, lalu istirahat sebentar di Ngawi. Lanjut lagi melewati Caruban (Madiun), dan berhenti lagi untuk solat asar di Alun-Alun Nganjuk (kayak judul lagu?).

Lanjut kemudian sampai di Kertosono (masih masuk Nganjuk), melewati jembatan yang membelah sungai Brantas, dan akhirnya tepat adzan maghrib saya sampai dengan selamat di Pare (Kediri).

Pare atau Mojokuto, tempat observasi Clifford Gertz ketika membuat karya monumentalnya The Religion of Java. Tapi sekarang jarang orang yang tahu tentang hal tersebut, lebih sering orang mengenal Pare dengan Kampung Inggris; Dan saya kemudian singgah sebentar ke tempat tersebut :)

Kampung Inggris, konon katanya orang di kampung ini berbahasa Inggris semua, hingga para pedagang dan tukang becak bahkan memakai Bahasa Inggris. Ah, apa benar???

Saya coba mampir ke salah satu penjual, dan disapa, "Bade ngersakke nopo mas?" Dan buyarlah semua gambaran awalku tentang Kampung Inggris...

(Bersambung ke 'Ngukur Dalan' (Catatan Kesunyian: 6)