Rabu, 05 Maret 2014

Mbah Sahal dan Warisan Fikih Sosial

 
Dimuat di GAGASAN Solopos dan Kolom NU Online, Edisi Senin 27 Januari 2014 

Oleh : Ajie Najmuddin*

Seminggu menjelang peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-88, warga Nahdlatul Ulama (NU) dilanda duka, Rais ‘Aam Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh diberitakan telah wafat pada Jumat 24 Januari 2014 sekitar pukul 01.05, di kediamannya kompleks Pondok Pesantren Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah. (NU Online, 24 Januari 2014)
Kabar ini tentu menjadi duka yang mendalam, tidak hanya bagi warga NU semata, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Mbah Sahal begitu beliau biasa dipanggil para santrinya, saat ini masih menjabat sebagai Ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menunjukkan bahwa sosok Mabah Sahal ini, memang seorang ulama yang mendapatkan kepercayaan umat serta memiliki kedalaman ilmu dan keluasan wawasan.
Produktif Menulis
Pengasuh Pondok Maslakul Huda Pati ini juga dikenal sebagai ulama yang produktif menulis. Karya tulisnya lebih dari 100 judul artikel di berbagai media masa dan sebagian telah dibukukan, di antaranya berjudul Nuansa Fiqih Sosial, Ensiklopedia Ijma’. Oleh karenanya wajar apabila Mbah Sahal mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa (DR. HC) dalam bidang ilmu fikih dan pemikiran keislaman dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2003.
Selain dalam bahasa Indonesia, Mbah Sahal juga menulis dalam bahasa Arab, atau di pesantren biasa dikenal dengan istilah kitab kuning. Salah satu karya fenomenal beliau adalah kitab Thariqatul Hushul ala Ghayatil Wushul, sebuah kitab yang menjadi penjelasan dari kitab Ghoyatul Wusul, karya Syekh Abu Zakariya Al-Anshori, salah seorang ulama Syafi’iyyah yang hidup di abad ke-9 Hijriyah. Ironisnya, kitab Thoriqotul Husul ini menjadi bahan kajian di Universitas Al-Azhar Mesir dan sejumlah perguruan tinggi di Yaman, namun malah belum banyak dikenal di pasca sarjana perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Ada kisah menarik, di tengah proses ia menulis kitab Thoriqotul Husul ini. Ketika Kiai Sahal muda tengah berguru kepada Kiai Zubair Pesantren Sarang Rembang. Salah satu kitab yang didiskusikan adalah Ghoyatul Wushul karya Syekh Zakariya Al-Anshori ulama syafiiyah abad 9 Hijriyah. Diskusi berlangsung secara intensif. Kiai Zubair juga senang membuat pancingan. Terjadilah perbincangan dan Kiai Sahal pun rajin membuat catatan (ta’liqat) dalam bahasa Arab.
Hobi menulis dilanjutkan dengan mengirimkan surat (murosalah) kepada Syekh Muhammad Yasin Padang, seorang kiai pesohor dari Indonesia yang menjadi ulama besar dan menetap di Tanah Suci. Kiai Sahal mengomentari tulisan Syekh Yasin dalam satu kitab, membantahnya dengan argumentasi berdasarkan kitab yang beredar di Jawa. Satu surat berisi sekitar 3-4 lembar, berbahasa Arab.
Syahdan, ketika turun dari kapal, saat Kiai Sahal menginjakkan kaki di Mekkah, seseorang tak dikenal langsung memeluknya dan menariknya ke sebuah warung. Seseorang itu tidak lain adalah Syekh Yasin sendiri. Mungkin dalam surat terakhir Kiai Sahal menuliskan bahwa dirinya akan menunaikan ibadah haji.
Kiai Sahal diminta tinggal di rumah Syekh Yasin. Setiap pagi ia bertugas berbelanja ke pasar membeli kebutuhan Syekh Yasin. Dan setelah itu Kiai Sahal berkesempatan belajar dengan seorang ulama besar yang diseganinya itu selama dua bulanan. Dalam diskusi dan perdebatan, Syekh Yasin mendudukkan Kiai Sahal seperti teman diskusi.
Dua bulan pertemuan, Syekh Yasin mengijazahkan banyak kitab yang menginspirasi Kiai Sahal menulis banyak kitab. Dan ta’liqot yang ditulisnya saat belajar bersama Syekh Zubair dirapikan kembali. Terkumpul 500-an halaman dan belakangan dibukukan menjadi satu kitab bertajuk “Thoriqatul Husul”. (Anam, 2013)
NU Setelah Kepergiannya
Sebagai Rais ‘Aam Syuriyah PBNU, Mbah Sahal memiliki sumbangan tersendiri bagi perkembangan organisasi. Ia meneruskan sumbangan-sumbangan pemikiran dan misi yang telah dibawa oleh para pendahulunya.
Seperti yang pernah dipaparkan Abdurrahman Wahid (1991), setiap Rais ‘Aam membawa pemikiran dan misinya. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar membawakan ketinggian derajat kompetensi ilmu keagamaan yang sangat tinggi ke dalam tubuh NU. KH Wahab Hasbullah membawakan kegigihan pluralitas politik, yang masih bertahan dalam tatanan politik kita saat ini.
Lain lagi dengan KH Bisri Syansuri yang membawakan dua hal yang sebenarnya saling berlawanan; kegigihan membela hukum agama di hadapan proses modernisasi yang sering berbentuk sekuler. KH Ali Maksum, KH Achmad Shiddiq dan lain sebagainya, masing–masing membawa misi yang konstruktif dan saling memantapkan satu sama lain.
Sedangkan pada sosok Kiai Sahal, yang menjadi Rais ‘Aam sejak tahun 1999, memiliki karakter khas pada pengembangan fikih sosial dan fikih kontekstual. Masalah muamalat dan sosial menajdi banyak sorotan Mbah Sahal. Pendekatan yang sering dipakainya adalah pendekatan maslahah atau kemaslahatan.
Hal ini pernah disampaikan sendiri oleh Mbah Sahal usai menerima gelar HC, Pilihan-pilihan tersebut saya dasarkan pada kenyataan yang menunjukkan, betapa banyak masyarakat yang belum mampu menyentuh gagasan-gagasan yang njlimet dari pakar. Karena itu saya concern , inilah yang membuat saya menetapkan fiqih sebagai pilihan untuk dijadikan jembatan menuju pengembangan masyarakat. (Sahal, 2003)
Fikih dipandangnya, tidak saja memberikan hukum halal dan haram secara normatif, tetapi juga jalan keluar (solusi) terhadap permasalahan yang dihadapi. Pendekatan kontekstual ini tentu sangat cocok apabila kita kaitkan dengan zaman sekarang, yang dihadapkan pada segala hal dan permasalahan yang senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan.
Inilah yang menjadi warisan Mbah Sahal bagi bangsa, sekaligus tantangan bagi Rais ‘Aam PBNU berikutnya. Di era sekarang, mampukah para ulama Indonesia dan khususnya NU menjaga kaidah Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholeh wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah (memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif? Lahu al-Fatihah!

*Pemimpin Redaksi NU Solo Online

Ulama Tak Harus Miskin

Dimuat di GAGASAN Solopos, Edisi Jum'at 27 September 2013

Oleh : Ajie Najmuddin*

Tulisan Muhammad Milkhan yang berjudul Ulama dan Kemewahan  di Solopos edisi Jumat, 20 September 2013, menarik untuk ditelaah dan didiskusikan. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu didiskusikan lebih lanjut agar pemahaman umum tak terjebak dalam satu versi pemahaman dan pandangan.
Dalam tulisan tersebut dipaparkan gambaran kategori ulama dunia. Bahkan dalam beberapa kalimatnya, seolah kemudian menyudutkan salah seorang tokoh ulama yang menurut sudut pandangnya tak lagi mencerminkan sosok warastatul anbiyaa’ (ulama pewaris para nabi) karena kemewahan yang ditampakkan. Lalu apa yang perlu kita cermati dari tulisan tersebut? Apa pula yang perlu kita luruskan?
Pertama, perlu kita perhatikan argumentasi Muhammad Milkhan yang ia kutip dari Gus Mus, tentang dua kategori ulama menurut Imam Ghazali, yakni ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia yakni mereka yang menggunakan ilmunya untuk kepentingan duniawi.
Sedangkan ulama akhirat merupakan orang-orang yang menggunakan ilmunya lillahi ta’ala (karena Allah SWT). Namun, perlu kita perjelas lagi apakah yang dimaksud oleh Imam Ghazali tentang ulama dunia hanya sebatas yang tampak di luar saja? Bisakah kita katakan ulama ini termasuk ulama dunia hanya karena mobil mewah yang dikenakannya?
Di antara para ulama terkemuka di zaman lampau (sebelum terlalu jauh dengan memberi contoh para nabi atau sahabat), banyak sekali kisah dari mereka yang dari segi lahirnya memperlihatkan kekayaan dan kemewahan. Akan tetapi, dari segi batin rupanya hati mereka tak tertaut dengan harta yang berada di sekeliling mereka.
Contohnya adalah kisah hidup Abdullah bin Al-Mubarak Al-Marwazi (wafat pada 181 H). Dia adalah imam besar yang ternama dari kalangan Atba’ut Tabi’in. Dalam biografi dia disebutkan Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah bertanya kepadanya apa sebab dia memiliki perniagaan besar dengan mengekspor barang-barang dagangan dari negeri Khurasan ke Mekah.
Abdullah bin Al-Mubarak menjawab pertanyaan Imam Al-Fudhail itu dengan mengatakan, ”Sesungguhnya aku melakukan itu untuk menjaga mukaku (agar tidak meminta-minta kepada orang lain), memuliakan kehormatanku, dan menggunakannya untuk membantuku dalam ketaatan kepada Allah,”.
Ucapan ini benar-benar terbukti, karena dia sangat terkenal dengan sifat dermawan dan selalu membantu orang miskin dengan sumbangan harta yang sangat besar setiap tahun. Kisah Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama terkemuka di Basrah, juga contoh yang harus kita ketahui. Suatu hari ia memerintahkan seorang santri yang bernama Abdullah untuk menyampaikan kepada Ahmad, guru Abdullah di kampung. Sufyan berpesan, ”Sampaikan kepada gurumu, agar ia tidak cinta dunia.”
Mendengar pesan itu Abdullah merasa bingung. Di matanya, Ahmad adalah seorang yang sangat sederhana, bahkan miskin. Sedangkan Sufyan Ats-Tsauri yang menyampaikan pesan itu adalah seorang yang kaya-raya. Rumahnya besar lengkap dengan perabotan mewah. Kebunnya sangat luas dan juga memiliki ternak sapi yang amat banyak.
Dalam kebingungan tersebut, Abdullah pulang ke tempat asalnya. Dan menyampaikan pesan Ats-Tsauri kepada Ahmad. Mendengar isi pesan itu, Ahmad terenyuh dan meneteskan air mata. Ia justru membenarkan ucapan Ats-Tsauri karena selama ini dalam kemiskinannya ia masih saja memikirkan dunia.
Apa yang bisa dipetik dari dua cerita di atas? Kekayaan atau kemewahan bukanlah sindikator kedekatan orang dengan Tuhan. Tak ada yang bisa menjamin semakin orang kaya maka akan semakin tertaut hatinya dengan dunia. Bisa jadi dengan ilmu yang dimiliki, seorang ulama yang diberi amanat berupa harta justru bisa lebih mengetahui cara yang baik untuk menasarufkannya, dibanding orang yang tak berilmu, dan dengan cara seperti itu bisa lebih dekat dengan Tuhan.

Ulama dan Umara
Kedua, terkait kritik Muhammad Milkhan terhadap ulama yang menghadiri undangan-undangan tanpa meyeleksinya. Terlepas dari siapa pun yang mengundang, di dalam Islam Nabi Muhammad SAW mengajarkan kewajiban untuk menghadiri undangan. Dalam sebuah hadis memang tersirat bahwa Nabi SAW lebih mencintai undangan kaum miskin. Namun, beliau juga tak pernah menyebut pelarangan untuk memenuhi suatu undangan.
Siapa pula yang tahu niat seseorang, baik atau buruk. Selama ada orang yang hendak berbuat baik, kenapa pula mesti menolaknya? Ingatkah kita pada sebuah kisah pertobatan seorang pembunuh? Berkali-kali ia ditolak pertobatannya oleh para pemuka agama, namun akhirnya oleh Nabi Musa AS dia diterima kehadirannya dan dipersilakan untuk bertobat. Allah Maha Penerima Tobat, selama hamba-Nya memang bersungguh-sungguh bertobat dan tak mengulangi kesalahannya lagi.
Konteks demikian juga selaras ketika kita kaitkan bahwa semestinya antara umara (penguasa) dan ulama bersatu. Muhammad bin Husein Al-Habsyi (2013) pernah menyatakan ulama dan umara ini ibarat imam dan muazin dalam salat. Ketika sang muazin menyeru azan Zuhur pukul 11.00, sedang imam akan salat pukul 12.00, bingunglah jemaah (rakyat).
Sinergi keduanya mutlak diperlukan agar jemaah tidak bingung. Jadi sah-sah saja, ketika mereka berkumpul dalam sebuah majelis. Yang dilarang dari hubungan keduanya yakni ketika ulama mendukung seorang penguasa yang lalim karena hal itu akan menjauhkannya dari rakyat.
Pada akhirnya, semestinya kita tidak perlu memandang ulama dari bentuk lahirnya, termasuk memandang segala kekayaan yang dia miliki. Hal tersebut bukan patokan utama kriteria seorang ulama. Bibit Suprapto dalam Ensiklopedi Ulama Nusantara (2009) menjelaskan beberapa kriteria penting ulama.
Kriteria tersebut di antaranya, pertama, seorang ulama tentu harus alim, yakni memiliki pengetahuan yang cukup dalam ilmu-ilmu keislaman, bahkan semestinya dia juga memiliki spesialisasi disiplin ilmu. Kedua, abid, yakni ahli ibadah atau mengamalkan ilmunya. Ketiga, muttaqin, yakni senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Keempat, ikhlas dan zuhud. Perjuangannya harus hanya karena Allah, bukan karena kepentingan duniawi. Namun, tidak berarti dia apriori terhadap dunia, karena semua itu merupakan sarana menuju Allah. Juga tak ada larangan ulama kaya raya. Apabila boleh kita berandai-andai, alangkah enaknya bila di lingkungan kita, ada seorang ulama yang alim nan kaya.
Dia menyediakan pondok pesantren yang gratis untuk santri-santrinya, bahkan dia menanggung semua kebutuhan santri-santrinya tersebut.  Dengan demikian semua orang, bahkan yang tidak mampu sekali pun, dapat menikmati pendidikan agama darinya dengan hati yang tenang.

*Pengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta.

Minggu, 27 Januari 2013

Hobi Lama Kambuh

Sekarang hobi lama ku kembali kambuh. Kalau dulu aku suka nulis opini di koran atau buku pribadi, sekarang beralih ,sih tetap nulis juga. tp skg di media online, tepatnya NU Online.
Entah mendapat motivasi apa, tiba-tiba menajdi bersemangat untuk sering ngirim berita atau artikel ke situs nu.or.id (http://nu.or.id/lang,id-.phpx)
Tulisan yang saya kirim biasanya berkisar tentang kegiatan warga NU dan Banomnya, baik struktural (organisasi) maupun ranah kultural (pengajian, pesantren, tokoh dan sebagainya). Ruang lingkupnya di Solo Raya (Solo, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sragen).
Kalau ada teman-teman yang tertarik mengikuti 'jejak' saya, khususnya yang suka nulis dan juga tinggal di wilayah Solo Raya, bisa hub saya di fb : M Ajie Najmuddin http://www.facebook.com/majie.najmuddin?ref=tn_tnmn

Wallahul muwafiq ila aqwami thariq :) biar banyak konflik tetap menarik
SALAM!!!

Jumat, 30 November 2012

Nglencer...

Tahun 2012 ini lumayan banyak tempat baru yang aku kunjungi, tapi cuma di Pulau Jawa aja sih. Mulai dari daerah Jatim, Jateng, Jogja, Jabar... minus Banten dan Madura (tahun depan semoga bisa ke sana :) )
Aku lupa urutannya yang mana dulu.. yang pasti awal tahun aku sering ke Jombang, Pare, Kediri.. terus pertengahan tahun 'touring nekat' Solo-Jakarta naik sepeda motor. ditutup oktober lalu ke Pantai Selatan...

Oktober di Pantai Baron, Gunung Kidul
ini di masjid agung semarang (pose foto ajeg hehe)
foto di selekta, Batu.


Di Bawah Bukit Kapur, Aku Menemukan Keceriaan

Tidak terasa, hampir dua tahun aku mendiami sebuah bangunan di bawah bukit kapur (mungkin campuran kapur dan tanah apa gitu), di tengah pepohonan jati. Entah bagaimana awalnya, jangan kau tanya, tiba-tiba aku ada di tempat itu. Mungkin karena termakan ucapanku sendiri. Suatu hari ketika aku diajak guruku mengunjungi daerah tersebut, aku membatin: "Semoga ini yang pertama, dan terakhir aku kesini". Nyatanya akhirnya sekarang aku justru ada di sini, di bawah bukit kapur ini, sudah hampir dua tahun.
Dua tahun bukan waktu yang singkat. dan alhamdulillah aku mampu melewatinya.. dengan berbagai cerita pastinya. Dan salah satu yang mebuat aku betah tinggal di sana, yakni keceriaan mereka yang setiap sore menantiku dengan sabar, bahkan terkadang mereka pulang dengan wajah kecewa (karena aku tidak hadir). Tapi esoknya mereka kembali datang dengan wajah yang kembali ceria.

Keceriaan mereka yang membuat aku tersenyum kembali usai lelah menempuh perjalanan Laweyan-Tawangsari. Semangat mereka yang menjadikan diri ini terus menjaga harapan, bahwa masih ada secercah keberkahan ada di kampung tersebut. Ada celah bagiku untuk menjadi seseorang yang tetap bermanfaat. Duh Gusti, mugi panjenengan atur kulo kanti 'aturan' panjenengan, mugi-mugi kulo kiat ing dalam netepi 'aturanipun' panjenengan. Sebab kulo yakin aturan panjenengan merupakan 'aturan' ingkang paling sae. AMIN!!!

Wisuda

alhamdulillah bisa sedikit memberi kebanggaan untuk bapak...
Tulisan ini mestinya kuposting Maret lalu. Aku bisa mengikuti acara wisuda yang menjadi simbol berakhirnya masa kuliah seorang mahasiswa. Hampir 7 tahun (dari 2005-2012) hehe lumayan lama juga ya... aku baru bisa mengikuti acara ini. Dulu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember, agak sedih juga kalau melihat teman-teman yang seangkatan bahkan adik tingkatku diwisuda, sementara dalam batin aku berkata: "kapan giliranku?". Dan hari kamis (8/3) waktu itu, menjadi salah satu momen indah dalam hidupku.

Rabu, 05 September 2012

Rafting - Kelas Pemula

(5/9) Sungai bukanlah tempat yang asing bagiku. Pada masa kecilku, hampir setiap hari aku bermain di tempat tersebut. Berenang, mencari ikan, bermain lumpur..
Dulu, sungai di kampungku masih bersih. Banyak warga yang memanfaatkan sungai tersebut sebagai tempat untuk mandi, mencuci baju, bahkan tak sedikit dari mereka yang mencari nafkah dari hasil kekayaan sungai. Mereka adalah pencari pasir, pencari ikan, juga buruh pencuci baju. Mereka memanfaatkan semua itu dengan gratis.
....

(8/9) Dan di bulan ...

Rabu, 25 Juli 2012

Back to school... (2)

Mustahil, untuk kembali ke masa lampau. Tetapi kenangan akan sekolah di sebelah masjid itu masih melekat kuat di dalam ingatan dan hati ini...

Pasti teman-teman juga akan (dan harus) mengiyakan... hehe ya kan?

Dan sekarang, di sekolah (sebelah masjid pula) aku ingin merenda sejarah...

dimanapun kita berada, harus tetap belajar atau mengajar!!! bahkan ketika kita sedang sendirian, alam dan lingkungan sekitar bisa jadi guru kita (tapi nek dewean sing meh diajar sopo yo... hehe)

dan untuk guru-guruku, sekarang aku menapaki jalan hidupmu... mengajarkan satu alif demi alif... kata demi kata. Semoga berkah dan manfaat ilmu yang telah kupelajari dari engkau.

Untuk semua orang yang pernah menjadi guruku... lahumul alfatihah...

Sabtu, 14 April 2012

Totalitas Alex...


Ada banyak Juventini (sebutan untuk fans Juventus) yang bilang: " Juve is Alex, Alex is Juve.. Ya, Alex atau Alessandro Del Piero adalah maskot Juve. Pemain ini sampai sekarang sudah memperkuat Juventus selama hampir 20 tahun. Berbagai torehan rekor dan prestasi yang ia bukukan menjadikannya sebagai salah satu legenda Il Bianconerri. Terakhir pada saat melawan Lazio (12/4), penampilannya yang ke-700 dan golnya ke-288 di laga tersebut merupakan rekor baru, yakni sebagai pemain terbanyak yang bermain dan sekaligus pencetak gol terbanyak untuk juve.

Namun, sederet prestasi tersebut sepertinya tidak membuat nasib karirnya di juve aman. Kontrak Del Piero yang akan berakhir pada akhir musim 2011/2012 ini tak kunjung jua diperpanjang oleh manajemen klub. Sebetulnya banyak pihak sekali yang menyayangkan keputusan tersebut, terutama dari juventini. Para penggemar juventus mesti bersiap untuk kehilangan pemain idolanya tersebut musim depan.

(bersambung) dan tamat :D

Selasa, 03 April 2012

Back to Scholl

Usai diwisuda pada bulan Maret lalu, aku resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE). Sekarang statusku berubah, dari seorang penganggur tertutup (mahasiswa) menjadi seorang penganggur terbuka... hehe
Untungnya status itu tak bertahan lama, suatu hari aku chatingan dengan temanku. Iseng kutanya ada info pekerjaan atau tidak. dijawab: "Ya!!" kemudian diperlihatkan olehnya sebuah info lowongan penerimaan guru baru di SD Ta'mirul Islam Surakarta. Tepatnya guru al-Qur'an??? :D
Segera kulengkapi semua persyaratan, dan akhirnya tibalah saatnya mengikuti tahap tes yang berlangsung kurang lebih 3 minggu... ya, 3 minggu yang meliputi tes potensi akademik, bahasa inggris, mikro teaching, tes al-Qur'an, dan terakhir wawancara.

eee... ndilalah aku lolos. Dan akhirnya sekarang aku kembali ke sekolah. back to scholl... mengajar dan belajar.

Doakan saja meski lulus dengan predikat SE tapi semoga bisa menjadi guru al-qur'an yang baik dan berprestasi... ^_^

Kamis, 23 Juni 2011

Finish! (Catatan Kesunyian: 7/Habis)

Hari 3

Rute: Kragan - Lasem - Rembang - Blora - Purwodadi (Grobogan) - Gemolong - Gondangrejo (Kr. Anyar) - Solo - Sukoharjo

Pukul 09.16, Waktunya pulang. Dari Rembang biasanya aku menempuh rute Rembang-Pati-Grobogan, tapi kali ini aku ingin mencoba jalur lain, Rembang-Blora-Grobogan. Menurutku, hampir tak banyak perbedaan dari kedua rute ini, di sepanjang jalan dipenuhi alas jati, sawah dan jalan yang rusak.

Motor terus melaju kencang, mesin motor mulai panas, sama seperti cuaca di sepanjang daerah yang kulewati. Terpaksa beberapa kali beristirahat, sekedar untuk mendinginkan mesin motor dan mesin tubuh.

Pukul 14.00 baru sampai di Solo, istirahat sebentar, lalu pulang ke Sukoharjo, sampai lagi Kalimangir tepat pukul 15.30. Alhamdulillah...

***
Acara ngukur dalan selesai, entah berapa ratus kilometer perjalanan yang kutempuh. Kini, kembali lagi dengan segala rutinitas, yang sudah 3 hari kutinggalkan. Badan remuk redam, tapi tak ada yang meredam (mijeti), maklum bujangan hehe

Kaplingan, 23/6/2011

Rabu, 22 Juni 2011

'Ngukur Dalan' (Catatan Kesunyian: 6)

Hari 2
Rute: Pare - Jombang - Babat (Lamongan) - Tuban - Kragan (Rembang)

Pukul 06.15, Menembus jalanan Pare-Jombang yang sebagian masih diliputi kabut pagi. Kali ini perjalananku tidak sendiri (ditemani Kasih :) ), kami melewati desa-desa di daerah selatan Jombang, hingga sampai di sebuah tempat, Tebuireng. Kami pun berhenti.

Tebuireng, dari namanya bisa ditebak kalau daerah ini merupakan daerah penghasil tebu. Disamping itu daerah ini merupakan 'penghasil' ulama-ulama besar yang masyhur dan tersebar di seluruh Nusantara.

Ya, dari Pondok Pesantren Tebuireng inilah kita mengenal nama Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy'ari (atau sebaliknya? dari beliau kita mengenal Tebuireng?), pendiri Nahdhatul Ulama dan Pahlawan Indonesia. Saat berkunjung ke Ponpes Tebuireng, aku berkesempatan untuk berziarah ke makam beliau.

Di dekat makam beliau, juga terdapat makam putra beliau, KH. Wahid Hasyim dan cucu beliau KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah menjabat sebagai Presiden RI. Juga dalam kompleks pemakaman yang tidak luas tersebut, juga terdapat makam keluarga beliau dan beberapa tokoh Ponpes Tebuireng.

di kompleks pemakaman Ponpes Tebuireng
Usai memanjatkan doa, sembari bertawasul kepada beliau para kekasih Allah, perjalanan kulanjutkan menuju ke Tuban, dan sempat singgah sebentar di Alun-alun Jombang .

Pukul 11.00, sampai di Tuban. Istirahat sebentar di tepi Pantai Panyuran, sambil menikmati segarnya minuman legen dan buah Siwalan. Lanjut ke Alun-alun Tuban, istirahat dan solat di Masjid Agung Tuban.

Iringan acara khitan
Tak jauh dari masjid, ada makam Sunan Bonang. Mumpung ada di sini, maka aku sempatkan untuk berziarah. Kebetulan di sekitar kompleks pemakaman, ada peristiwa menarik; ada perayaan khitan. Anak kecil yang aku taksir usianya masih 7 tahun naik di atas kuda diarak oleh rombongan hadrah dan beberapa anak kecil yang hendak memperebutkan hadiah yang digantung di atas tongkat.


Terakhir, usai ziarah sebelum ke Rembang aku mampir ke Goa Akbar (besar). Goa dengan lorong-lorong yang seolah panjang tak ada habisnya (sebetulnya rute lorong hanya diputarkan saja) ini terletak justru di tengah kota.

Konon, goa ini dulunya merupakan bekas tempat pembuangan sampah (parit) di zaman kerajaan/kolonial dulu ya? saya juga lupa hehe. Setelah ditemukan kemudian dibentuklah seperti sekarang ini, dan dijadikan sebagai obyek wisata andalan Tuban.

Menjelang maghrib, perjalanan kulanjutkan (kembali sendiri) menuju Kragan (Rembang). Menyusuri pantai utara Tuban-Rembang, menikmati pemandangan matahari yang perlahan tenggelam di garis horizon Laut Jawa.

Terang berganti gelap, namun alhamdulillah akhirnya bisa sampai di Kragan.

***
(Bersambung ke Finish! (Catatan Kesunyian: 7)

Keluar Dari Kesunyian (Catatan Kesunyian: 5)

Ketika kita bosan dalam kesepian, kadang kita bisa menjadi gila karenanya.

Bagi saya, agar dapat terhindar dari efek kegilaan tersebut, saya mengobatinya dengan menciptakan 'kegilaan' yang lain, 'kegilaan' yang positif tentunya.

Ngukur dalan sebagian daerah Jawa Tengah-Jawa Timur dengan tujuan wisata rohani dan jasmani ini mungkin bisa anda tiru, kalau mau? hehe :)

Saya ceritakan sebagian dari 'kegilaan' tersebut:

Neng aloon-aloon Jombang
Hari 1 (19/6/2011)
Rute: Sukoharjo - Kr.Anyar - Sragen - Ngawi - Madiun - Nganjuk - Pare (Kediri)

Pukul 13.30 WIB, Berangkat dari Kalimangir, sebuah dukuh yang terletak di sebelah selatan Sukoharjo. Jalanannya yang rusak, membuat laju motor yang kukendarai (sendirian) mesti dipelankan.

Perlahan namun pasti, motor bergerak menuju ke arah utara. Agar lebih cepat aku tidak lewat Solo, tetapi mengambil jalan ke arah Bekonang lalu sampai di Palur (termasuk jalur utama Solo-Surabaya).

Motor melaju kencang, melewati Sragen, lalu istirahat sebentar di Ngawi. Lanjut lagi melewati Caruban (Madiun), dan berhenti lagi untuk solat asar di Alun-Alun Nganjuk (kayak judul lagu?).

Lanjut kemudian sampai di Kertosono (masih masuk Nganjuk), melewati jembatan yang membelah sungai Brantas, dan akhirnya tepat adzan maghrib saya sampai dengan selamat di Pare (Kediri).

Pare atau Mojokuto, tempat observasi Clifford Gertz ketika membuat karya monumentalnya The Religion of Java. Tapi sekarang jarang orang yang tahu tentang hal tersebut, lebih sering orang mengenal Pare dengan Kampung Inggris; Dan saya kemudian singgah sebentar ke tempat tersebut :)

Kampung Inggris, konon katanya orang di kampung ini berbahasa Inggris semua, hingga para pedagang dan tukang becak bahkan memakai Bahasa Inggris. Ah, apa benar???

Saya coba mampir ke salah satu penjual, dan disapa, "Bade ngersakke nopo mas?" Dan buyarlah semua gambaran awalku tentang Kampung Inggris...

(Bersambung ke 'Ngukur Dalan' (Catatan Kesunyian: 6)

Sabtu, 11 Juni 2011

Sambatan (Catatan Kesunyian: 4)

Sambatan. Bagi sebagian besar masyarakat Jawa (khususnya yang masih di lingkup pedesaan) pasti tak asing dengan istilah ini. Sambatan ini merupakan sebuah aktivitas sosial warga dalam bentuk membangun rumah secara bergotong royong.

Jadi, bila ada salah seorang warga yang akan membangun rumah. Maka, tetangga di sekitarnya atau malah (mungkin) satu kampung/RT, juga akan turut membantu dalam proses pembangunan rumah. "Gotong Royong dan Tanpa Paksaan!", itu semboyannya.

***

Kebetulan, kemarin ada seorang tetanggaku yang sedang membangun rumah. Karena bersifat sukarela, maka tetangga yang membantu juga tidak terlalu banyak. Warga yang lain kebanyakan sedang sibuk dengan pekerjaan/rutinitas masing-masing, entah ke sawah, ke kebun dan lain sebagainya.

***

Tradisi sambatan ini di beberapa masyarakat (bahkan di pedesaan) sudah mulai ditinggalkan. Apalagi di daerah perkotaan, yang karakter masyarakatnya cenderung individualistik. Biasanya mereka lebih suka menyewa buruh (harian atau borongan) untuk membangun rumahnya.

Minggu, 22 Mei 2011

Robohnya Perpustakaan Kami!

Harianjoglosemar. Rabu, 18/05/2011 09:00 WIB
Oleh: M Ajie Najmuddin (Pegiat Komunitas Ayo Moco)
Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.” (Milan Kundera)
Ungkapan dari seorang sastrawan asal Ceko di atas memang ada benarnya. Sejarah kebesaran sebuah peradaban bangsa akan lebih diakui keabsahan asal-muasal dan perkembangannya dari literatur, dari bukti-bukti autentik, yang tidak sekadar turun-temurun dituturkan dari lisan ke lisan. Maka tidak salah jika ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa karakter suatu bangsa, dapat dilihat dari perpustakaan nasionalnya.
Perpustakaan nasional bisa menggambarkan keragaman masyarakat, corak sosial kultur, dan bahkan geografis suatu bangsa. Dari ragam koleksi yang dimiliki, dapat dilihat identitas masyarakatnya. Identitas secara kolektif, kebesaran dan kehancuran, kebangunan dan kejatuhan, dapat terekam dengan baik dalam sumber-sumber literasi jika perpustakaan bisa selalu terjaga dari pemusnahan (Diana, 2009).
Sayangnya, meskipun tahu akan pentingnya fungsi keberadaan sebuah perpustakaan, hingga saat ini pemerintah kita belum begitu bersemangat membangun representasi kepribadian bangsa tersebut. Baik perpustakaan nasional maupun perpustakaan di daerah-daerah, kondisinya hampir sama, mengenaskan. Pada tingkatan nasional, belum pernah ada gerakan mengajak warga untuk mengumpulkan data-data sejarah yang dimilikinya. Sementara perpustakaan di tiap daerah, rata-rata nasibnya memprihatinkan dan oleh pemerintah setempat keberadaannya kurang begitu diperhatikan.
Kini, di Kota Solo, bagaimana pula nasib perpustakaannya? Solo, yang dalam sejarahnya memiliki budaya literasi cukup baik, ini bisa kita lihat dari pelbagai karya sastra yang terwujud dalam berbagai bentuk, seperti tulisan (serat), kesejarahan (babad), dan pelbagai karya sastra lainnya. Sebut saja karya-karya seperti Serat Centhini, Serat Kalathida dan lainnya.
Perpustakaan di Solo
Kota Bengawan juga memiliki banyak perpustakaan. Selain perpustakaan daerah yang dikelola pemerintah kota, terdapat pula perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan arsip-arsip lama ataupun manuskrip. seperti halnya di Monumen Pers, Perpustakaan di Mangkunegaran dan Sasono Pustoko di Keraton Kasunanan. Koleksi arsip, manuskrip dan buku yang ada perpustakaan tersebut sering dijadikan rujukan dalam penelitian, baik dari dalam maupun luar negeri.
Penasaran dengan semua cerita itu, beberapa hari lalu saya berkeliling kota untuk melihat perpustakaannya. Namun, kenyataan kadang tak semanis yang diceritakan. Perpustakaan daerah yang terletak di Kepatihan misalnya, menurut penuturan petugas, setiap harinya rata-rata sepi pengunjung. Apabila dilihat dari segi bangunan dan interiornya, memang tidak cukup menarik minat orang untuk berkunjung ke perpustakaan. Satu hal lain yang tak kalah penting, hari liburnya menyesuaikan hari libur pegawai. Alhasil, hari Sabtu dan Minggu, di mana seharusnya banyak orang yang memiliki waktu luang membaca, perpustakaan justru ditutup.
Tak puas dengan fakta itu, saya kemudian beralih ke Mangkunegaran dan Monumen Pers. Perpustakaan di dua tempat tersebut sebetulnya memiliki kelebihan tersendiri. Yang pertama bagus dari sisi pengelolaan, satunya bagus dari segi fisik bangunan. Yang menjadi kelemahan dari keduanya, dari segi pemanfaatannya sebagai ruang baca dan ruang belajar masih minim. Lain lagi di Sasono Pustoko, Keraton Kasunanan, kondisinya lebih buruk dibanding kedua perpustakaan tadi. Bangunannya yang tidak begitu terawat dan koleksinya juga banyak yang hilang.
Sangat disesalkan, kebesaran sejarah literasi dan banyaknya perpustakaan yang ada di Solo, ternyata tidak diimbangi dengan perhatian yang serius dari pemerintah kota dan kesadaran warganya. Beberapa dari perpustakaan tersebut, secara fisik bangunan kondisinya sudah banyak perbaikan. Namun dari sisi fungsinya sebuah perpustakaan (sebagai tempat membaca atau penyimpanan koleksi buku), sebagian besar dari perpustakaan tersebut menghadapi kenyataan yang sama, miskin pengunjung dan miskin koleksi.
Membangun Perpustakaan

Robohnya Perpustakaan Kami! Judul tersebut, meminjam judul sebuah karya sastra karangan AA Navis, Robohnya Surau Kami! Dalam novel tersebut, diceritakan bahwa surau atau musala, memang secara bangunan fisik tidak benar-benar roboh. Tetapi surau sebagai sebuah simbol bangunan keagamaan dan moralitas telah roboh (mengalami degradasi moral). Maka, perpustakaan sebagai sebuah simbol istana buku, cerminan tradisi membaca suatu masyarakat, representasi kepribadian bangsa, apakah juga akan mengalami nasib yang sama ataukah memang sudah benar-benar roboh?
Oleh karena itu, sebelum benar-benar terlambat roboh, kita mesti segera berupaya memperbaiki perpustakaan. Pertama, merevitalisasi perpustakaan. Upaya revitalisasi ini merupakan suatu upaya menghidupkan kembali fungsi perpustakaan sebagai ruang baca dan ruang belajar (penelitian). Dalam hal ini, Pemkot Solo perlu memberikan perhatian lebih, yang diwujudkan semisal dalam kebijakan pengelolaan dan anggaran yang lebih responsif.
Contohlah Pemerintah Kota Malang, yang memberikan perhatian serius dalam mengelola perpustakaan daerah. Tidak hanya dari aspek fisik bangunan yang akan membuat orang merasa nyaman membaca di dalamnya, namun juga aspek pelayanan. Hari Sabtu dan Minggu, perpustakaan tetap dibuka untuk memberikan kesempatan membaca bagi mereka yang baru bisa meluangkan waktunya pada hari libur.
Kedua, Pemerintah Kota Solo mesti lebih massif dalam upaya menggerakkan ajakan gemar membaca kepada warga. Gerakan gemar membaca ini sedikit banyak akan berdampak terhadap minat warga untuk berkunjung ke perpustakaan. Hal ini sebetulnya sudah disiasati oleh Pemkot dengan membuka perpustakaan (mobil) keliling dan juga menjalin kerja sama dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) yang kemudian menghasilkan mobil pintar, namun belum begitu efektif.
Kedua upaya tersebut akan lebih berhasil, bila warga juga turut berpartisipasi. Ketika perpustakaan telah terbangun bagus, sangat disayangkan bila kemudian warga tidak turut aktif dalam menghidupkan dan memanfaatkan keberadaannya. Mari bersama kita membangun (kembali) perpustakaan, sebelum ia benar-benar roboh!

Rabu, 11 Mei 2011

RESENSI: Perang Troya, Kisah Tragedi Manusia vs Dewa


RESENSI: Perang Troya, Kisah Tragedi Manusia vs Dewa


BUDAYA

RESENSI: Perang Troya, Kisah Tragedi Manusia vs Dewa
Oleh : Ajie Najmudin | 07-Mei-2011, 15:13:07 WIB

Judul Buku : The Iliad of Homer
Penerjemah: Asep Rachmatullah
Kategori : Novel
Penerbit: Oncor Semesta Alam
Harga Jual : Rp. 40.000,-
ISBN/EAN : 978-602-96828-5-4
Cetakan : pertama
Terbit : Januari, 2011
Panjang x lebar Buku : 13 x 20 cm
Jumlah Halaman : vi + 254 halaman


KabarIndonesia -
Kalau anda pernah menonton film ‘Troy’, anda tentu ingat akan kehebatan tokoh Achilles, yang diperankan oleh Brad Pitt. Jalan cerita film tersebut, yang diilhami dari sebuah mahakarya, Iliad, adalah sebuah rangkaian epik yang yang ditulis penyair besar asal Yunani, Homer, yang hidup di masa abad 8 SM.

Iliad menceritakan tentang kemelut yang terjadi di negeri yang berjuluk negeri para dewa ini. Kemelut yang terjadi tidak hanya sekedar pertempuran antara pasukan Yunani dan Troya, tetapi juga melibatkan Dewa-Dewi yang mendiami puncak Olympus. Mereka terpecah menjadi dua kubu; Yunani didukung oleh Athena, Poseidon dan Hera. Sedangkan Apollo, Aprodhite, dan Ares membela bangsa Troya.

Konflik awal dipicu oleh penculikan Putri Helena yang diculik oleh Pangeran Alexandrus (Paris). Sang pangeran kemudian membawa Helena ke negaranya, Troya. Hal ini kemudian membuat berang Raja Agamemnon. Ia mendapat dukungan dari bangsanya untuk mengerahkan pasukan dalam jumlah besar dari bangsa Yunani, guna merebut kembali Putri Helena. Sebanyak 1.000 kapal ia kerahkan untuk memuluskan misinya. Meskipun demikian, rencana penyerangan tersebut tetap tak lepas dari pro-kontra di bangsa Yunani.

Adalah Achilles, seorang panglima perang Yunani, yang menentang penyerangan ke bangsa Troy ini. Ia menganggap penyerangan ini hanyalah untuk keserakahan dan harga diri Agamemnon belaka. Alasan ini juga sebetulnya juga diperkuat atas perlakuan tak adil Agamemnon terhadapnya, yang tak pernah memberikan penghargaan setimpal atas jasa-jasanya selama ini. Namun atas bujukan Ajax dan Odysseus, akhirnya ia bersedia ikut dalam peperangan dan bahkan menjadi pahlawan bangsanya tatkala berhasil mengalahkan Hector, Pangeran Troya.

Pasukan Yunani mesti membutuhkan waktu total dua puluh tahun untuk berhasil menaklukkan Troya. 10 tahun pertama dihabiskan untuk mengumpulkan armada perang (pihak Yunani) dan 10 terakhir dihabiskan di medan perang, hingga akhirnya, berkat ide cemerlang prajurit Yunani, Odysseus, Troya dapat ditaklukkan, itupun dengan bantuan para dewa. Kelanjutan dari kisah ini ditulis oleh Homer di karyannya yang lain, Odyssey.

Yang menarik dari kisah dalam buku Iliad ini adalah kolaborasi relasi konflik yang dibangun, antara manusia dengan Dewa. Diceritakan bagaimana para Dewa-Dewi ini mesti saling bersaing membujuk raja para Dewa, Zeus, untuk mendapatkan dukungannya. Bahkan istri Zeus sendiri, Hera, harus meminta bantuan sang Dewi kecantikan, Aprodhite, untuk melancarkan rencananya merayu Zeus agar ia tidak menahan Achilles yang akan ikut menyerang Troya.

Karakter dalam kisah ini juga sangat kompleks. Dalam konteks peperangan sulit dibedakan lagi mana yang benar dan yang salah. Karakter yang dibangun hampir mirip dengan yang diperankan para Ksatria yang terlibat dalam perang Baratayuda dalam Kisah Mahabharata. Seperti halnya Hector yang bisa jadi dikategorikan sebagai tokoh antagonis karena menjadi lawan tokoh utama Achilles, namun di sisi lain dia adalah seorang patriot sejati. Disinilah dituntut kejelian pembaca untuk bisa memahami karakter yang diperankan para tokoh.

Tentang Homer
Iliad dan Odyssey tetap menjadi kisah yang digemari di dunia selama berabad-abad dan telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa, termasuk buku The Iliad of Homer yang diterbitkan penerbit ONCOR ini adalah yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indoensia.

Kisah tentang kehebatan ekspedisi bangsa Yunani ke Timur dan nasib malang sebagian besar pemimpin ekspedisi itu telah menyebar di Yunani dari generasi ke generasi dalam bentuk sajak-sajak pendek selama ratusan tahun sebelum Iliad dan Odyssey digubah oleh Homer. Namun Homer tidak sekedar menggabungkan sajak-sajak itu; ia memilih, mengatur, menambahkan, dan menyempurnakannya menjadi hasil final dengan bakatnya yang jenius.

Karya Homer di masa lampau sangat mempengaruhi Yunani, bahkan digemari. Saking digemarinya sehingga berpengaruh terhadap sikap keagamaan dan etika mereka. Bahkan, pengaruhnya bukan hanya dari kalangan intelektual, tapi juga kalangan militer dan pemuka politik di masa itu. Pernah dikisahkan bahwa Alexander Agung mengepit salinan Illiad di ketiaknya selama bertempur.

Bangsa Yunani percaya bahwa Perang Troya (Perang Peloponesos) adalah peristiwa sejarah yang terjadi pada abad ke-13 atau ke-12 SM, berlangsung di sekitar Dardanelles (sekarang adalah daerah Baratlaut Turki). Pada tahun 1870, seorang arkeolog Jerman, Heinrich Schliemann, melakukan penggalian di daerah yang ia identifikasi sebagai kota Troya; temuan itu membuktikan keberadaan kota Troya dan diterima sebagian besar sarjana. Namun masih tersisa satu pertanyaan, apakah Troya yang disebutkan Homer dalam The Iliad benar-benar nyata? (*)

Hardikans dan Freire


Oleh : M Ajie Najmuddin*
2 Mei, seperti biasa kita peringati bersama hari pendidikan nasional (Hardiknas), sebagai wujud peringatan atas lahirnya tokoh pendidikan nasional kita, Ki Hajar Dewantara. Namun, pada tanggal tersebut, entah kebetulan atau tidak, ternyata bertepatan pula dengan peringatan wafat seorang tokoh pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, yang meninggal pada tahun 1997 lalu. Bukan hendak mengesampingkan peran penting guru besar kita tersebut, melainkan mencoba untuk mencari perspektif lain dalam memaknai dan merefleksikan momentum peringatan Hardiknas kali ini.
Freire, sebagaimana yang telah sedikit banyak kita ketahui, merupakan seorang tokoh pendidikan yang mengenalkan konsepsi penyadaran (contscientizacao) sebagai inti dari pendidikan. Bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan dan membebaskan manusia dari penindasan (dehumanisasi). Konsep tersebut kemudian ia jabarkan menjadi tiga macam, yakni kesadaran magis, naif, dan kritis (Mansour Fakih, 2001).
Tujuan pendidikan pembebasan ala Freire tersebut, tak jauh berbeda bila kita bandingkan dengan amanat konstitusi negara kita, yakni pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tersebut ditafsirkan secara panjang lebar dalam UU Sisdiknas, yakni bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pada intinya tujuan pendidikan yang sesungguhnya adalah tak jauh dari dua kata di atas, pembebasan dan pemanusiaan.
Namun, apa yang dicita-citakan dari konsep perundang-undangan tersebut, dalam implementasinya ternyata masih jauh dari harapan. Dalam menyusun RENSTRA Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2010 – 2015 lebih menekankan pada manajemen dan kepemimpinan, bukan pada masalah pokok yaitu pengembangan anak Indonesia. Anak Indonesia hanya dijadikan obyek, anak Indonesia bukan merupakan suatu proses humanisasi atau pemanusiaan. Anak Indonesia dijadikan alat untuk menggulirkan suatu tujuan ekonomis yaitu pertumbuhan, ketrampilan, penguasaan skill yang dituntut dalam pertumbuhan ekonomi. Lantas, bagaimanakah pendidikan kita semestinya diarahkan?
Pendidikan Berkesadaran
Memang, pertanyaan di atas terkesan retoris, sebab tujuan pendidikan kita sudah jelas, untuk mencerdaskan bangsa. Namun dalam kenyataan yang tengah kita hadapi, perlu ada upaya untuk mengembalikan lagi pendidikan pada tujuannya, atau pendidikan untuk membebaskan dan memanusiakan manusia dalam perspektif Freire. Dalam rangka itulah, perlu adanya proses penyadaran sebagai inti dari pendidikan.
Kata kuncinya kemudian adalah kesadaran, kesadaran kritis, yang lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Dalam konteks masalah pendidikan, maka kita tidak lagi melihat persoalan siapa yang benar dan salah (subjek), tetapi lebih kepada bagaimana sistem pendidikan kita berjalan. Tidak hanya di tingkat decision maker (pemerintah, sekolah dan sebagainya), tetapi juga dengan segenap perangkat lunak dan perangkat kerasnya.
Oleh karena itu, paling tidak ada dua hal yang mesti diperhatikan untuk mengarahkannya. Pertama, persoalan paradigma pendidikan. Paradigma ini akan menentukan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan dan arah kebijakan pendidikan. Paradigma pendidikan kita saat ini yang terkesan profit oriented, untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya terhadap investasi yang dilaksanakan dalam bidang pendidikan.
Pendek kata, perlu adanya penyadaran dan perombakan atas paradigma sistem pendidikan kita. Bahwa tujuan pendidikan tidak hanya sekedar mencari ijazah (mempermudah mencari pekerjaan) belaka, tetapi lebih berorientasi kepada pengenalan realitas pada diri manusia (pencerdasan). Dengan konsep ini, pemerintah juga semestinya mampu menyediakan pendidikan berkualitas nan terjangkau untuk warganya.
Kedua, dalam konteks kelengkapan sarana dan prasarana penunjang pendidikan. Aspek pengajar dan sekolah merupakan hal tak boleh diabaikan. Keduanya adalah faktor penting penentu keberhasilan sebuah pendidikan. Maka disamping upaya perbaikan kesejahteraan pada guru dan bangunan fisik pada sekolah, juga perlu ditekankan orientasi metode pengajaran yang lebih dialogis dan humanis, baik dari guru personal maupun secara kurikulum.
Refleksi pendidikan dan dua gagasan di atas setidaknya dapat menjadi bahan renungan bagi kita. Sengkarut pada sistem pendidikan Indonesia, membutuhkan upaya dari berbagai pihak untuk menyelesaikannya. Tujuan pendidikan mesti diluruskan kembali arahnya, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, refleksi bila tanpa aksi adalah verbalisme, sedangkan aksi tanpa refleksi juga hanya akan menjadi aktivisme belaka. Semoga momentum peringatan Hardiknas kali ini, bisa menjadi refleksi sekaligus mewujudkan aksi nyata bagi kita semua untuk menjadikan pendidikan di negeri kita menjadi lebih baik.
*Aktivis PMII, Pengajar di Sukoharjo.

Senin, 18 April 2011

Oleh-oleh dari Banjarmasin... (3)

EKSOTISME PASAR TERAPUNG
Kongres hampir usai, hari ini (17/3) akan diadakan acara 'penting', pemilihan ketua PB PMII 2011/13. Namun, sejak semalam sudah kurencanakan untuk mengobati rasa penasaranku, melihat Pasar Terapung.
suasana Pasar Terapung
Kalau kalian ingat, dulu ada tayangan (jeda acara), dimana ditampilkan ibu-ibu dengan sayuran dan buah-buahan segar menawarkan dagangannya di sebuah sampan atau perahu. Sebagian lagi sibuk bertransaksi. Lalu iklan diakhiri dengan seorang pedagang ibu-ibu yang tersenyum sambil mengajungkan jempol dan kemudian iklan diakhri dengan lau RCTI oke.
Itulah salah satu gambaran yang ada di Pasar Terapung.. Lalu-lalang kapal Klotok (karena bunyinya klotok-klotok) dan segala macam aneka transaksi yang terjadi. Ya, mirip keadaan sebuah pasar tradisional, dan memang pasar, cuma terapung.
....
Pagi benar, pukul 5.30 WITA, kami (Aku dan Bus) sudah naik angkot dari depan asrama haji (Banjarbaru), tempat kongres, menuju Gambut lalu ke Banjarmasin. Naas, angkot (disana disebut taxi) yang kami tumpangi hanya sampai ke Landasan Terbang Ulin. Kami harus turun lagi mencari Taxi, tak berselang lama ia datang, masih kosong. Taxi melaju kencang, kami berharap bisa lebih cepat lagi, karena pasar terapung hanya ada sampai pukul 7.30.
Taxi berhenti, 2 penumpang masuk, dari logat bahasa yang kudengar kelihatannya mereka orang Sunda. Mereka turun di Gambut untuk berjualan roti. Kami-lah pembeli pertama roti mereka hari itu, penglaris.
...
Banjarmasin. Masih terlihat sepi, Kunikmati setiap sudut kota. Kami sampai di Terminal Pasar Anyar. Kemudian langsung naik ojek menuju Pasar Terapung. Oh, sudah semakin dekat... kulewati jembatan kayu, di samping kiri terlihat aliran sungai. Sungai apa ini? Sungai Barito-kah? di Kalimantan ini begitu banyak sungai...
...
07.00 WITA
Hamparan air sungai nan luas, berada di hadapanku. Ini kah Sungai Barito, yang memiliki luas hampir 2 Km itu? Ternyata bukan, ini sungai Kuin, anak sungai Barito. Tapi tak apalah, dari kejauhan kulihat lalu-lalang kapal klotok, dan beberapa kapal besar yang tertambat di dekat dermaga. Sayang pasar sudah mulai sepi, maklum sudah agak siang.
Transaksi...
Pelan-pelan aku turun ke bawah, berjalan di atas kayu-kayu gelondongan yang terapung. Mesti hati-hati karena medannya seperti di permainan benteng takeshi, yang setiap saat kayunya bisa timbul tenggelam bergerak mengikui riak sungai. Sampai akhirnya tiba di tepi sungai.... kupandangi sepuasnya kebesaran Tuhan ini, baru anak sungai saja luasnya bukan main, apalagi induk sungainya?!
Oke...
Oh ya, bagi mereka yang berkantong tebal, bisa lebih menikmati pesona di pasar terapung ini dengan naik perahu klotok, yang harga sewanya mencapai Rp. 100.000 per jam. Saya lebih memilih untuk sekedar memfoto pemandangan sungai, hilir mudik kapal, dsb. Bagi saya ini sudah lebih dari cukup.
Pasar terapung ini memang rasanya memang bukan untuk tujuan (surga) bagi mereka yang gemar belanja (lebih banyak sayur atau buah, yang mahal harganya). Menurutku tujuan utama para wisatawan datang ke sini, lebih kepada menikmati eksotisme pasar terapung, yang konon hanya ada di Indonesia dan Bangkok. Sangat disayangkan fungsi 'pasar' menjadi kurang optimal.

Oleh-oleh dari Banjarmasin... (2)

WISATA ROHANI, MARTAPURA
Martapura, Kota Penghasil intan, itu yang kutahu dari buku ATLAS warisan kakak. Itu pula yang membuat turis lokal maupun manca tertarik untuk berkunjung ke daerah yang dikelilingi banyak sungai ini.
Namun, selain intan tadi, kota ini ternyata juga memiliki potensi lainnya, wisata rohani. Bagi para 'peziarah wali', Martapura juga tak luput dari daftar tujuan mereka. Kalau di Jawa, orang banyak berziarah ke makam para wali songo. Maka di Martapura, makam Syekh Arsyad Al-Banjar (Astambul) dan Tuan Guru Zaini (Sekumpul), termasuk dalam salah satu menu utama bagi para peziarah.
Kami (Aku dan Umar), terlebih dahulu berziarah ke makam Syekh Arsyad al-Banjar (1122-1227 H/1710-1812 M), seorang ulama besar dari Martapura (Kalsel). Beliau juga merupakan merupakan mufti dari kerajaan Banjar.
Syaikh Arsyad
Makam beliau terletak +- 8 Km dari Kota Martapura, tepatnya di daerah Kelampaian Tengah, Kec. Astambul. Oleh karena itu beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk Kelampaian.
....
16.30 WITA.. Kami kembali ke Sekumpul, Martapura.
Konon, sewaktu Tuan Guru Zaini atau Guru Ijai masih hidup, Tanah Sekumpul dulunya 'sepi'. Kemudian lambat laun berbondong-bondong orang mendirikan rumah, toko di daerah tsb untuk bisa tinggal di dekat beliau. Sekumpul kemudian menjadi pusat dakwah Islam di Martapura.
Saya juga baru mengenal beliau, pada akhir tahun 2007, ketika mendengar mp.3 qasidah beliau,dan juga rekaman video beliau saat bersama Habib Anis (cucu Habib Ali Al-Habsyi, muallif Simtudhurar). Suara beliau yang sangat lembut nan khudlur berpadu dengan keramahan dan senyum Habib Anis, membuat hati ini bergetar.
Siapakah mereka berdua?? kucari di internet. Ternyata mereka berdua adalah para ulama besar, namun sayang aku tak bisa berjumpa langsung dengan mereka. Baru kutahu kalau Habib Anis itu ternyata ada di Solo, dan seharusnya dari dulu saya tahu beliau!!! (Habib Anis wafat tahun 2006, saya di solo pertama kali tahun 2005, namun saya baru tahu beliau tahun 2007).
Hingga dalam sebuah angan, ingin sekali saya untuk dipertemukan mereka, meskipun dalam mimpi. Habib Anis sudah kuziarahi sebab makamnya terletak di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Solo. Sedangkan Guru Ijai, nun di Pulau Kalimantan, apa aku bisa ke sana?
T.G. Zaini
Sampai akhirnya, aku dapat mendapatkan kesempatan ini... Alhamdulillah. Assalamu'alaika Yaa Guru Zaini...
.....
Keinginan yang semoga (kelak) terwujud... Assalamu'alaika Ayyuhannabiyyu Warahmatullahi Wabarakatuh... Siapa mau ikut saya? :)

Mengawal Perbaikan Kinerja PKMS

Oleh : M Ajie Najmuddin*
Bagi sebagian besar warga Kota Surakarta, khususnya mereka yang tergolong sebagai warga miskin, kehadiran program Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS) dinilai telah banyak membantu warga. Keberadaan program tersebut memungkinkan warga mendapatkan jaminan dan pelayanan kesehatan yang murah, bahkan cuma-cuma. Program yang digulirkan Pemkot Solo sejak 2008 ini, bak oase di tengah mahalnya biaya kesehatan.
Upaya yang telah dilakukan Pemkot ini patut kita apresiasi, karena sudah sangat membantu warga. Oleh karena itu agar manfaatnya bisa benar-benar dirasakan oleh masyarakat, perjalanan program ini harus kita kawal betul pelaksanaannya. Sebab, sebagus apapun sebuah kebijakan, pasti masih menyisakan beberapa kekurangan di dalamnya. Tak terkecuali dengan program PKMS ini, masih banyak ditemukan beberapa kelemahan, seperti pelaksanaan PKMS yang belum transparan dan masih banyak orang yang dipersulit mendapatkannya. (Joglosemar, 22 Maret 2011)
Hal tersebut semakin bertambah rumit, seiring dengan meningkatnya permintaan pembuatan kartu PKMS, seperti yang diberitakan Joglosemar pada 2 Februari lalu, mencapai 400 kartu per hari. Ini diperkuat dengan data yang diverifikasi oleh Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT), bahwa jumlah orang yang meminta kartu PKMS pada 2011 ini sebesar 211.815. Terjadi peningkatan besar bila dibandingkan dengan tahun 2008, yakni 137.000 orang. Tingginya permintaan tersebut mengandung konsekuensi, Pemkot dituntut untuk bekerja lebih ekstra dalam mengimplementasikan program ini.
Program PKMS sejak 2008, dalam implementasinya, digulirkan melalui dua jenis, yaitu PKMS Silver dan PKMS Gold. PKMS Silver diberikan kepada seluruh masyarakat Surakarta sesuai dengan persyaratan. Sedangkan PKMS Gold dikhususkan untuk diberikan kepada masyarakat miskin yang terdaftar di surat keputusan Walikota.
Pemberian bantuannya pun berbeda. Dengan PKMS Silver, warga berhak mendapatkan biaya pelayanan kesehatan maksimal Rp 2 juta yang ditanggung pemerintah. Sedangkan PKMS Gold, warga bisa mendapatkan pelayanan tanpa mengeluarkan biaya sama sekali (gratis). Perbedaan ini yang kemudian juga menimbulkan permasalahan baru dalam program PKMS.
Tiga Perbaikan
Sedikit refleksi tentang pelaksanaan program PKMS di atas, bisa kita jadikan acuan untuk bahan evaluasi dan memperbaiki kinerja pelaksanaannya. Komitmen dan niat baik dari Pemkot, perlu kita dukung setidaknya dengan memberikan beberapa masukan dan wacana untuk perbaikan PKMS ke depannya. Minimal ada tiga hal yang perlu diperhatikan, baik dari awal program sampai pertanggungjawabannya.
Pertama, terkait perencanaan program. Sebuah program akan berjalan dengan tepat dan efektif, manakala dirancang dengan sebuah perencanaan yang matang. Dalam konteks perencanaan program PKMS ini, semisal terkait perencanaan jumlah anggaran yang akan disediakan untuk pembiayaannya, harus berdasar pada database yang akurat. Ini juga akan terkait pada proses pelaksanaan, yakni pada tahap prosedur pengajuan kartu, yang jelas membutuhkan proses pendataan terbawah yang jelas dan transparan.
Khususnya data jumlah warga miskin (Gakin) yang akan menjadi sasaran utama program ini, perlu diketahui betul berapa jumlahnya. Hal ini dimaksudkan di samping untuk efektivitas anggaran, juga guna menghindari kasus salah sasaran. Isu penggelembungan data Gakin yang pernah terjadi karena kurang sinergisnya kinerja antardinas dalam penerimaan dan verifikasi data Gakin, juga bisa ikut menambah masalah dalam pelaksanaan program ini. Oleh karena itu, perlu juga dioptimalkan sinergitas antardinas dalam permasalahan verifikasi data.
Kedua, dalam tahap pelaksanaan, khususnya dalam hubungan dengan institusi yang ditunjuk, baik rumah sakit dan Posyandu, dalam pelaksanaannya perlu diawasi betul. Agar anggaran besar yang telah dikeluarkan pemerintah juga bisa diimbangi dengan pelayanan maksimal dan bisa dirasakan betul manfaatnya oleh warga.
Pengawasan tersebut juga dimaksudkan guna mencegah kebocoran dan penyalahgunaan anggaran. Hal tersebut berkaitan dengan masih banyak terjadinya kasus kebocoran anggaran dan penyalahgunaan anggaran (mark up) yang indikasinya dari laporan klaim institusi pelaksana PKMS. Untuk itu, perlu dilakukan pengawasan yang ketat atas laporan tersebut.
Hal lain yang harus dievaluasi dalam pelaksanaan, yakni dalam hal prosedur pengajuan pergantian (upgrade), dari PKMS Gold ke Jamkesda yang harus lebih diperjelas dan disosialisasikan lagi tata caranya. Sebagai tambahan masukan, informasi harga obat juga perlu diberikan kepada warga pengguna PKMS. Harapannya agar mereka bisa memilih dan mendapatkan obat yang berkualitas.
Ketiga, selain beberapa hal yang lebih bersifat teknis di atas, juga perlu diupayakan payung hukum untuk mendukung perbaikan layanan kesehatan dan keberadaan PKMS itu sendiri. Oleh karena itu, perlu didorong terwujudnya peraturan daerah (Perda) yang lebih khusus dalam meng-cover persoalan pelayanan kesehatan atau PKMS ini. Perda tersebut juga akan menegaskan tanggung jawab dan jaminan dari Pemkot dalam pemenuhan hak warga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Saat ini, payung hukum PKMS baru diatur dalam Perda Nomor 8 tahun 2007 tentang perubahan kedua atas Perda Nomor 7 tahun 1998 tentang retribusi pelayanan kesehatan. Perda yang terakhir ini dirasa belum cukup dalam mendukung pelaksanaan PKMS yang dalam pelaksanaannya semakin kompleks.
Tiga hal tersebut, setidaknya bisa menjadi masukan untuk mendukung dan perbaikan pelaksanaan PKMS ke depannya. Perbaikan tersebut minimal membutuhkan dukungan yang meliputi tiga unsur, yakni pemangku kebijakan (pemerintah), pelaksana kebijakan (rumah sakit, Posyandu, dan sebagainya) dan pengguna kebijakan (masyarakat). Di samping itu, integritas, kesadaran (untuk tidak “memiskinkan diri” supaya mendapatkan bantuan) dan keterlibatan masyarakat juga perlu ditingkatkan. Hal itu agar tujuan pemberian jaminan pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat Kota Surakarta, khususnya kepada warga miskin bisa segera terwujud.
*Aktivis Forum Studi Warga NU Surakarta (Fosminsa)