(Harian JS)LAWEYAN—Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang Jalan Dr Radjiman, Laweyan, Solo menolak rencana relokasi atau pasarisasi oleh Dinas Pengelola Pasar (DPP) Solo. Relokasi mereka anggap akan mematikan mata pencaharian mereka.
Kepada Jogosemar, Sabtu (19/2), Ketua Paguyuban PKL DrRadjiman ”Ranggalawe”, Muhammad Mukti, mengatakan, dari 47 anggota paguyuban, semua sepakat menolak rencana relokasi itu.
Rencananya, PKL akan direlokasi ke Pasar Klithikan Notoharjo, sekitar April 2011 mendatang. Penolakan tersebut, dilatarbelakangi oleh ketakutan PKL, akan kehilangan pelanggan dan sepinya Pasar Klithikan Notoharjo.
”Beberapa pengalaman PKL daerah lain yang dipasarisasi, telah mengalami gulung tikar, karena pasar tempat relokasi begitu sepi dari pengunjung. Untuk itu, kami enggan di pindah ke pasar, karena kami tidak ingin menjadi korban selanjutnya,” katanya.
”Seharusnya Pemkot memikirkan nasib PKL, jika pasarisasi dilakukan, sama halnya dengan menambah pengganguran,” katanya lagi.
Menurut Mukti, selama ini PKL Dr Radjiman tidak mengganggu arus lalu lintas. Namun, jika PKL dituding mengganggu keindahan, dia menantang DPP untuk menatanya, dengan cara membangunkan shelter, bukan memindahkannya.
”Selama ini, Pemkot atau DPP belum melakukan sosialisasi atau pendekatan kepada PKL. Padahal, kami berharap DPP bisa turun ke lapangan menemui kami dan dapat berembuk tentang rencana relokasi itu,” ujarnya.
”Sehingga nanti dapat ditemukan solusi atau kesepakatan antara Pemkot dan PKL, serta menghasilkan keputusan yang adil dan tidak merugikan salah satu pihak.”
Tidak adanya upaya pendekatan itulah, menurutnya, bisa memunculkan kesalahpahaman antara Pemkot dengan PKL. Jika memang PKL harus ditata, pihaknya akan bersedia untuk ditata, namun tidak untuk direlokasi.
Sementara itu, Kepala DPP Solo, Subagiyo mengatakan, selain PKL Jalan Dr Radjiman, rencananya PKL Jalan Veteran Solo, juga akan direlokasi ke Pasar Klithikan Notoharjo.
oleh : Anisaul Karimah
0 comments:
Poskan Komentar