Rabu, 02 Februari 2011

Jika Pasar Ikan Hias Direlokasi

Oleh Widyanto *

Perpindahan pasar ikan hias dari pasar Gede Solo ke pasar burung Depok kelihatannya sudah diperhitungkan dengan matang. Akan tetapi sudahkah pengambil keputusan berpikir mengenai efek pemasaran pasar ikan hias sebagai ikon wisata pendukung untuk Pasar Gede sebagai salah satu pasar wisata di Solo? Tulisan ini mencoba memberikan pemahaman tentang pentingnya pemasaran komprehensif dan konsep manajemen ritel bagi ikon wisata untuk Pasar Gede Solo.
Selain berfungsi sebagai pasar tradisional, Pasar Gede dapat dijadikan sebagai ikon wisata pasar tradisional yang menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak wisata lokal maupun luar kota. Ada banyak wisata kuliner di sana yang legendaris. Misalnya dawet ayu Pasar Gede yang berada di tengah pasar. Demikian juga jajan pasar yang sangat ramai pembelinya di pagi hari sampai siang. Nasi liwet khas Solo yang lezat juga ada. Tengkleng yang lezat masih disajikan dengan pincuk daun pisang jika sore hari. Pasar Gede adalah salah satu pasar tradisional besar setelah Pasar Legi Solo. Sebagai pasar tempat kulakan berbagai jenis barang, Pasar Gede masih menjadi magnet yang mengundang banyak pembeli baik sebagai pedagang atau sebagai wisatawan lokal dan asing.
Di sekitar Pasar Gede berkembang juga sedikitnya dua pasar tradisional, yaitu pasar buah dan pasar ikan hias. Pasar buah memiliki dinamika yang lebih “hidup” yaitu mampu buka sampai malam hari. Di sana terdapat banyak buah-buahan yang ditawarkan dengan harga dan kualitas bermutu. Mulai dari buah musiman, buah yang tidak bermusim sampai buah impor semuanya ada. Walaupun demikian masih banyak beberapa los pasarnya kosong tidak diisi pedagang. Di samping pasar buah terdapat pasar ikan hias yang cukup ramai terlebih jika hari libur. Pasar ikan hias menjual ikan hias dengan berbagai ragam jenis yang menarik. Kebanyakan adalah ikan hias air tawar. Di samping itu juga terdapat pedangang aksesori ikan hias seperti akuarium dan perlengkapannya. Harga ikan hias bervariasi mulai dari harga murah sekitar Rp 500-an hingga jutaan rupiah tergantung jenis ikannya. Tempat ini menjadi bahan berita beberapa waktu lalu ketika Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mempunyai rencana memindahkan pasar ikan hias ke pasar burung Depok. Pasar ikan hias ini rencananya akan diubah menjadi pasar buah.
Walaupun saya berpikir bahwa rencana perpindahan ini sudah diperhitungkan dengan matang oleh pengambil keputusan, saya ingin memperlihatkan pentingnya pasar ikan hias ini sebagai ikon pendukung wisata Pasar Gede. Mari kita amati beberapa perilaku orang yang datang di Pasar Gede jika bersama keluarga dan sanak saudaranya. Kira-kira apa saja yang dibeli oleh sebuah keluarga yang terdiri dari bapak ibu, anak, dan beberapa saudara? Jawabannya, banyak yang akan dibeli! Jika kunjungannya di pagi hari maka selain berbelanja kebutuhan sehari-hari, kaum ibu akan membeli banyak jajanan tradisional baik di Pasar Gede maupun di sekitarnya kemudian mungkin akan melihat-lihat di pasar buah. Kaum bapak akan memarkirkan kendaraannya di depan Pasar Gede dan menggendong anak Balitanya pergi melihat ikan hias. Lalu di mana peran pasar ikan hiasnya? Biasanya pasar ikan hias akan menjadi lebih ramai jika semakin siang. Hal ini terlihat semakin banyaknya motor dan mobil yang diparkir. Beberapa keluarga muda akan membawa anak-anak mereka melihat dan membeli ikan hias sekadar untuk menyenangkan dan memberikan ilmu pengetahuan baru tentang jenis ikan kepada anaknya, sampai memang menjadi penggemar ikan hias. Terlebih ketika ada kontes ikan skala lokal, animo masyarakat terlihat jelas.


Pemasaran Komprehensif
Dalam teori bisnis ritel modern, sering diajarkan konsep one stop shopping. Kegiatan ini terlihat ketika kita berada di mall modern. Semua barang ditawarkan dan terlihat menarik. Saya berpikir konsep ini dapat diterapkan untuk meningkatkan pengunjung wisata di Pasar Gede sebagai ikon wisata pasar tradisional. Bukankah akan lebih baik jika barang dan jasa yang ditawarkan menjadi lebih beragam?
Di dalam ilmu pemasaran ada konsep yang tentang diferensiasi produk. Semakin unik produk itu akan semakin bagus nilai tambahnya. Diferensiasi produk untuk Pasar Gede adalah pasar tradisional yang menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan kualitas bagus dan sebagai wisata belanja pasar tradisional.
Teknik kerumunan sering dipraktikkan untuk memperkenalkan produk baru. Caranya bisa bermacam-macam. Mulai dengan memakai penyanyi dangdut sampai kuis berhadiah. Pemkot Solo juga pernah mempraktikkan teknik kerumunan ini. Ketika memperkenalkan Night Market Ngarsopuro di depan Istana Mangkunegaran setiap Sabtu malam, Pemkot bekerja sama dengan Pura Mangkunegaran menggelar malam budaya berupa tarian atau fragmen tari karya dari Mangkunegaran dengan gratis sehingga semua orang boleh melihat dan menikmatinya. Akibatnya banyak orang datang ingin melihat pagelaran ini. Efeknya jelas karena Night Market Ngarsopuro menjadi dikunjungi banyak orang. Cara ini dapat dipakai untuk lebih memasarkan Pasar Gede sebagai ikon wisata. Bukankah setiap hari Minggu ada car free day yang berpotensi membuat masyarakat Solo banyak yang keluar rumah? Ini bisa dimanfaatkan dengan berbagai macam acara di Pasar Gede. Salah satunya menggunakan pasar ikan hias sebagai lokasi event berbagai acara misal kontes ikan hias jenis koi atau betta splended tingkat regional.
Pasar ikan hias di Pasar Gede sebaiknya menjadi ikon pendukung pasar tradisional Pasar Gede sebagai pasar wisata. Jika alasan para pedagang tidak tertib dan berkesan kumuh, maka perlu adanya pendampingan membuat lapak pasar menjadi bersih dan rapi. Pedagang di pasar ikan hias masih dapat diajak berunding untuk memperbaiki kondisi dan keadaan pasar. Saya yakin para pedagang hias juga bersedia karena itu akan menguntungkan mereka. Jika kondisi pasar ikan hias menjadi bersih dan rapi maka dapat menjadi sumber wisata baru. Saya pikir masih ada waktu untuk membenahi pasar ikan hias di Pasar Gede ini untuk menjadi pasar ikan hias yang menarik perhatian banyak orang. Apalagi jika sering diadakan kontes ikan hias di sana. Mengubah pasar ikan hias menjadi pasar buah akan memiliki risiko tertentu, antara lain jumlah pedagang buah menjadi lebih banyak sehingga menimbulkan persaingan baru di antara pedagang buah. Pasar buah yang sekarang pun masih terlihat banyak los yang kosong. Bukankah semakin banyak barang dan jasa yang dijual di pasar maka pengunjungnya akan semakin banyak? Sehingga ilmu manajemen ritel ini dapat diterapkan untuk pasar tradisional Pasar Gede sebagai ikon wisata pasar tradisional dan ikon sejarah. Semoga. n

*Dosen Pascasarjana Magister Manajemen Unika Soegijapranata, Semarang

(dimuat di harian Joglosemar, 2 Februari 2011)

0 comments:

Poskan Komentar